RM.id Rakyat Merdeka - Aksi terorisme terhadap jamaah dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, menyisakan duka mendalam bagi mereka yang selamat. Seperti Imam Masjid Al Noor Gamal Fouda dan Imam Masjid Linwood Alabi Lateef Zirullah. Mereka memberikan kesaksiannya kepada The Herald pada Minggu (17/3) waktu setempat. Kondisi keduanya masih syok mendapati keadaan 50 orang terluka dan belasan kritis karena kebiadaban Brenton Tarrant (28), si antiimigran yang mendukung supremasi kulit putih. Keduanya tak henti-hentinya menitikkan air mata ketika bercerita.
Di Linwood, ada sekitar 80 jemaah yang tengah beribadah pada saat peristiwa naas terjadi. Tujuh orang jamah masjid tewas dakam kejadian naas itu. Imam Zirullah saat itu tengah berada di dalam masjid, saat penembakan brutal terjadi. Pria bersejata, Brenton Tarrant (28) mulai menembak jemaah Muslim di luar.
Sasaran pertamanya adalah seorang lelaki dan istrinya yang tengah berada di depan masjid. Imam Zirullah saat itu tengah berada di dalam masjid, saat penembakan brutal terjadi. Para jemaah akan sujud ketika Zirullah melihat pria bersenjata itu di depan. Dia berteriak memberi peringatan. "Dia menyelamatkan banyak nyawa," kata seorang jamaah yang selamat dari pembantaian Linwood kepada Daily Mail Australia.
Terlihat wajahnya sangat sedih, ia pun melanjutkan kesaksiannya. "Saat saya melihat saudara Muslim itu ditembak mati, saya baru saja memberitahu saudara-saudara kami, 'turun, turun, seseorang baru saja menembak saudara kita di luar masjid," kata Zirullah.
"Tidak ada yang mendengarkan saya sampai akhirnya ia (pelaku) datang dari arah belakang dan menembak salah satu saudara kami melalui jendela, pelaku melihat jemaah itu berdiri dan menembaknya melalui jendela."
"Saat kaca pecah dan saudara kami jatuh, semua orang langsung sadar dan segera turun."
Zirullah kemudian bergegas keluar ruangan bersama dengan rekannya Abdul Aziz yang secara spontan mengambil mesin kartu kredit dan berteriak untuk mengalihkan perhatian lelaki bersenjata yang memiliki postur tubuh kecil itu, "ayo ke sini." Mendengar kalimat yang dilontarkan Aziz, pelaku pun berlari kembali ke mobilnya untuk mengambil senjata lainnya dan saat itu Aziz berusaha melemparkan mesin kartu kredit itu ke arah pelaku.
Baca juga : Lion Air Sudah Jatuh Tertimpa Tangga
Namun pelaku kembali menembak dan ketika Zirullah mencoba mengunci pintu utama untuk menjaga agar para jemaah tetap aman, Aziz dan kedua anaknya masih ada di antara mobil yang diparkir di luar. Bersama kedua anaknya, Aziz ada di tempat yang sama dengan pelaku yang akhirnya kembali melepaskan tembakan ke arahnya.
Aziz melihat pistol yang dibuang pelaku dan mengambilnya. Ia pun mencoba menarik pelatuknya namun kosong. Saat itu, pelaku kembali berlari menuju mobilnya untuk kali kedua yang diduga untuk mengambil senjata lainnya. "Ia masuk ke mobilnya dan saya baru saja mengambil pistol dan melemparkannya ke jendela (mobil) seperti panah dan menghancurkan (kaca mobilnya)," kata Aziz.
"Kaca depan pecah, itu sebabnya ia (pelaku) takut,". Aziz mengatakan, pelaku mengutuknya dan berteriak bahwa ia akan membunuh mereka semua. Namun pelaku kemudian pergi dan Aziz sempat mengejar mobilnya di jalan menuju lampu merah sebelum kemudian mobil itu berbelok dan melesat pergi.
Zirullah kemudian menelepon 111, layanan darurat dan mencoba membantu para jemaah yang sekarat dan terluka. Ia mengatakan siap mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan mereka. "Saya tidak percaya, saya kira saya akan mati, saya siap mati karena saya merasa hidup saya ini adalah untuk saudara-saudara kami," papar Zirullah.
Kisah sedih terucap dari Imam Fouda. Sekitar lima menit sebelum menyampaikan khutbahnya di mimbar di hadapan 200 jemaah, Fouda kaget saat tiba-tiba jemaah melompat dan berteriak setelah mendengar tiga kali bunyi letusan tembakan. Saat itu, ia bertanya-tanya apakah suara itu berasal dari beberapa anak muda yang tengah bermain di luar masjid, atau suara yang berasal dari sound system.
Sambil menceritakan ulang peristiwa itu, matanya berkaca-kaca, dan air matanya pun menetes. Fouda mengatakan kepada The Herald dalam wawancara pertamanya sejak serangan teror yang terjadi pada Jumat sang menjelang sore itu. Sejenak dia terdiam, kemudian melanjutkan ceritanya. Satu tembakan kembali terdengar, kali ini suaranya terdengar lebih dekat dan semakin dekat.
Tampak seorang berteriak, sebelum akhirnya memecahkan jendela. "Tembak," Fouda mendengar teriakan. "Lalu penembakan pun dimulai," kata Fouda yang menundukkan kepalanya. Ia mengisahkan, saat itu dirinya melihat sosok berperawakan kecil mengenakan helm, kacamata dan memakai kostum bergaya militer tengah menembakkan senjata semi-otomatis ke arah para jemaah.
Baca juga : Jangan Terus Geber Piatek
"Orang-orang berlarian ke arah lubang besar (di kaca yang pecah), sebagian besar dari mereka berlari melalui jendela, itu sebabnya di sisi kanan (gedung) ini hanya beberapa orang yang terbunuh,". "Tetapi di sisi kiri, korban bertumpukan karena lelaki (penembak) itu hanya berdiri dan membidik mereka." Pelaku menyisir bangunan dan mengeksekusi jamaah satu per satu.
"Setiap kali dia (pelaku) mendengar suara dari arah mana saja, ia akan menembak ke arah itu," jelas Fouda. "Dia terus mengawasi dan dengan tenangnya ia menembak dan menembak dan terus menembak," katanya.
Wajah Fouda terlihat sangat emosional, ia tampak sangat terpukul atas apa yang baru saja dialaminya. "Kami bahkan seolah tidak bisa bernapas karena asap dan peluru beterbangan.”
"Saat dia kehabisan peluru, kami tidak yakin apakah ia akan pergi karena ada keheningan sebentar, kami pikir ia bersembunyi, menunggu, kami tidak dapat melihatnya tapi syukurlah ia tidak tahu di mana kami berada,". "Namun ternyata ia (pelaku) kembali dan mulai menembak lagi, orang-orang yang keluar dari persembunyian (terkena tembakan) karena mereka tidak tahu kalau akan kembali."
"Bahkan ia juga menembaki tumpukan jenazah," papar Fouda. Menurut kesaksiannya, banyak diantara jemaah yang melarikan diri dan bersembunyi di tempat parkir belakang masjid, sementara yang lainnya terpaksa melompat pagar untuk mencari tempat yang aman. Satu orang yang mencoba menghubungi layanan darurar 111 ditemukan pelaku, akhirnya tertembak. Fouda bersembunyi bersama beberapa orang lainnya di ruang utama masjid selama berlangsungnya aksi penembakan yang menewaskan 43 orang di masjid tersebut. Dia berasumsi, si pelaku tidak tahu bahwa para perempuan bersembunyi di ruang terpisah untuk menyelamatkan hidup masing-masing. Beberapa jemaah perempuan yang mencoba melarikan diri pun ditembak mati. "Bahkan saya tidak percaya kalau saat ini saya masih hidup," tutur Fouda.
Setelah selesai meneror jemaah di Masjid Al Noor, lelaki bersenjata itu akhirnya pergi. Dia mengemudikan mobilnya melintasi kota untuk menyerang masjid lainnya, yakni Masjid Linwood. Fouda dan Zirullah menggambarkan pelaku sebagai penjahat yang pantas mendapatkan hukuman tertinggi berdasarkan hukum Selandia Baru.
Fouda baru tidur tiga jam sejak serangan tersebut. Prioritasnya saat ini adalah mencoba untuk mendapatkan daftar terakhir jemaahnya yang tewas dan mengurus pemakaman untuk mereka. Dia lalu menghela napas, "Mungkin butuh waktu, waktu yang lama dan kami akan membutuhkan banyak orang untuk terlibat dalam prosesi itu."
Baca juga : Area Tanam Bawang Putih Terus Diperluas
"Banyak orang yang memberikan dukungan moral kepada keluarga korban yang terluka atau meninggal, saya meminta kepada mereka untuk tetap tenang dan bersabar."
"Saya sendiri ketika berjalan di jalanan atau pergi ke suatu tempat, saya mencoba menyembunyikan diri karena terlalu banyak orang dan mereka ingin mengajukan pertanyaan kepada saya, saat ini saya hanya ingin tetap tenang untuk bisa membantu masyarakat."
Fouda mendoakan yang terbaik untuk mereka yang meninggal dunia dalam aksi brutal itu. "Semoga Allah SWT memberi mereka kedamaian, kini mereka telah berada di tempat yang jauh lebih baik, lebih baik daripada dunia ini." Air matanya pun kembali menetes, ia menangis saat mencoba mengirimkan ungkapan belasungkawanya ke komunitasnya.
"Kami tidak akan takut, (apa yang dilakukan pelaku) adalah perang melawan perdamaian dan kami harus bersatu, Selandia Baru adalah negara yang damai dan kami menyukainya, dan kami akan terus mencintai Selandia Baru."
"Ini seharusnya tidak membuat kami takut atau menghentikan kami dari persatuan sebagai saudara dan saudari, teman di negara yang indah ini." Baik Fouda maupun Zirullah, mendesak komunitas Muslim dan sesama warga Selandia baru untuk perang melawan segala bentuk terorisme. [MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.