Tausiah Politik
Sebelumnya
Sama dengan kalangan sufi yang mengatakan tidak ada artinya kita bicara tentang The One tanpa berbicara tentang The Many, karena Dalam karya-karya Ibnu ‘Arabi, khususnya Dawud Qaishari dalam “Syarah Fushush Al-Hikam”, sering menyebutkan istilah: Al-Wahdah fi al-Katsrah wa Katsrah fi al-Wahdah (The One in The Many and The Many in The One).
The One dihubungkan dengan hakekat wujud yang biasa disebut dengan al-jawahir (the substances) dan The Many dihubungkan dengan lokus manifestasi yang disebut al-‘ardh (the accidence). Aj-jawahir (jamak dari al-jauhar) menyatu di dalam inti substansi (al-’ain al-jauhar) yang biasa juga disebut dengan haqiqat jauhar (al-haqiqah al-jauhar), al-Nafas al-Rahmani (The Breath of the Merciful) atau al-Hayula al-Kulliyyah (The Universal Prime Matter). Al-’ain al-jauhar itu sendiri merupakan lokus pengejawentahan (mazhar) bagi Zat Ilahi, yang mana juga merupakan pusat manifestasi al-Asma al-Husna’.
Baca juga : Allah: A God Dan The God (3)
Jauhar dan ‘aradh menurut para filsuf merupakan dua struktur entitas yang berbeda walaupun keduanya sulit untuk dipisahkan. Sedangkan menurut kalangan sufi ‘aradh dan jauhar bukanlah merupakan dua entits yang berbeda tetapi yang satu merupakan hakikat dan lainnya merupakan manifestasi, seperti Allah sebagai hakekat wujud (al-Haqiqah al-Wujud) kemudian memunculkan manifestasi (madhhar). Antara Hakekat Wujud dengan wujud-wujud (a’yan) yang mewujudkan diri-Nya, walaupun keduanya berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Pembahasan ini mengingatkan kita kepada pola dialektika yang pernah muncul di dalam agama Hindu tentang perbedaan antara Brahma yang lebih banyak dipersepsikan sebagai A God dan dan Atma yang lebih banyak dipersepsikan sebagai The God.
Baca juga : Allah: A God Dan The God (2)
Dari segi ini seorang sufi pernah menyatakan: Tak seorangpun menegaskan keesaan Zat Mahaesa, sebab semua orang yang menegaska-Nya sesungguhnya mengingkari-Nya. Tauhid orang yang melukiskan-Nya hanyalah pinjaman, tak diterima oleh zat Mahaesa. Tauhid atas diri-Nya adalah tauhid-Nya. Orang yang melukiskan-Nya sungguh telah sesat”. Ibarat satu mata uang yang mempunyai dua sisi, yaitu sisi tanzih dan sisi tasybih. Tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Antara keduanya tidak paradoks melainkan masing-masing mempunyai makna dan fungsi. Penyatuan antara kedua kualitas ini sesuai dengan asumsi ontology Ibnu ‘Arabi yaitu kesatuan wujud (wahdah al-wujud). Bersambung…
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Senin, 1 April 2024 dengan judul "Living Qur’an (20), Allah: A God dan The God (3)"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.