Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Jika la ilah menjadi pangkalan pendaratan sesuatu yang bersifat sakral, yang datang sekali setahun di dalam bulan Ramadan, maka patut dipertanyakan, lailah dalam arti apa yang lebih tepat menjadi pangkalan pendaratan dhamir hu itu?
Apakah lailah dalam arti fakta, yaitu menanti terbenamnya matahari dan menunggu larutnya malam, atau lailah dalam arti symbol, yaitu terwujudnya suasana la iliyyah di dalam jiwa hamba-Nya berupa keheningan, kepasrahan, keakraban, kedamaian, kerinduan, cinta kasih amat mendalam, dan kekhusyukan.
Baca juga : Penghayatan Baru Terhadap Lailatul Qadr (3)
Jika merujuk kepada makna kedua (simbolik), maka tidak mesti harus menunggu terbenamnya matahari dan larutnya malam. Bukankah suasana hening, pasrah, akrab, damai, rindu, keheningan, kepasrahan, keakraban, kedamaian, cinta kasih, dan khusyuk bisa muncul di siang hari. Bukankah tidak ada jaminan jika suasana batin seperti itu mesti muncul di malam hari.
Betapa banyak orang merasakan amarah dan dendam kusumat (nahariyyah) di malam hari dan betapa banyak juga orang merasakan kedamaian, kepasrahan, kerinduan, dan kekhusyukan (la iliyyah) di siang hari.
Baca juga : Penghayatan Baru Terhadap Lailatul Qadr (2)
Lagi pula, jika Lailatul Qadr acuannya adalah malam, pertanyaan berikut akan muncul. Bagaimana sekiranya Lailatul Qadr turun bertepatan pukul 02 malam waktu Indonesia, sementara belahan bumi lain seperti Amerika Serikat berada pada posisi jam 02 siang? Bagaimana jika Lailatu Qadr turun pukul 02 waktu Saudi Arabia, berarti di Indonesia keburu pagi, tidak lagi malam. Padahal kita semua tahu bahwa waktu turunnya Lailatul Qadr hanya sekejap (la ilan), yakni sebagian kecil dari malam (qith’un min al-lail). Sudah pasti Allah SWT Maha Adil, tidak membeda-bedakan antara hambanya yang taat di berbagai tempat, baik di Indonesia, Saudi Arabia, maupun di AS.
Bagi para sufi, mengejar peristiwa Lailatul Qadr tidak terlalu penting, karena bagaimanapun Lailatul Qadr hanya bagian dari makhluk, sama dengan syurga juga makhluk. Yang paling penting bagi mereka ialah mencari Tuhan Sang Pencipta La ilatu Qadr dan syurga. Apakah masih perlu Lailatul Qadr dan syurga di dalam pelukan Sang Pencipta segalanya? Bagi kalangan ‘arifin atau salicin tidak terlalu tergila-gila dengan 10 malam terakhir bulan Ramadan, karena bagi mereka tidak mengejar kualitifikasi Lailatul Qadr melainkan kualitas Lailatul Qadr bisa terpatri di dalam jiwa-raga mereka.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.