RM.id Rakyat Merdeka - Apakah Joe Biden orang yang tahu diri ataukah tokoh yang salah perhitungan? Dua pertanyaan ini menyertai pengunduran diri Biden, 81 tahun, dari bursa capres Amerika Serikat.
Pada akhirnya, seorang pemimpin perlu memiliki satu pilihan dan pemikiran penting: inilah saat yang tepat untuk turun panggung.
Kita tahu, Soeharto misalnya, telat menyadari kondisi tersebut. Ferdinand Marcos dari Filipina juga demikian.
Kedua tokoh tersebut menjadi figur pilihan yang tahu bagaimana menggapai kekuasaan. Namun, yang tak kalah pentingnya, juga bisa merasa dan mengetahui ketika alarm untuk melepas kekuasaan sudah berbunyi.
Baca juga : Meracik Obat Pilkada
Itulah yang dihadapi Biden dalam beberapa pekan terakhir. Dia dihadapkan pada kondisi krusial dimana harus menimbang dan memutuskan: apa yang ingin dicapainya secara pribadi, bagaimana raga dan hatinya berbicara, dan apa yang terbaik bagi partai, bangsa dan negaranya.
Bagi pendukungnya, Biden dianggap sebagai figur yang arif bijaksana, yang sangat sadar kapan saatnya turun panggung. Pengunduran dirinya dinilai sebagai langkah teladan serta heroik demi bangsa dan negara. Biden dianggap sebagai tokoh yang mengesampingkan kepentingan pribadi.
Bagi lawan politiknya, justru sebaliknya. Biden dinilai sebagai orang yang tidak tahu diri. Tidak memahami kondisi kesehatannya sendiri. Memaksakan diri dan kehendak, tidak mau memberi kesempatan kepada kandidat lain (ketika dia bersikeras untuk maju lagi, April tahun lalu). Biden dianggap lebih mementingkan kepentingan pribadi dibanding kepentingan bangsa dan negara.
Ketika menyatakan akan maju lagi pada April 2023 lalu, memang sudah ada keraguan mengenai kesehatan dan usianya.
Baca juga : Butuh Pansel “Mata Air”
Jajak pendapat akhir tahun lalu menunjukkan, usia dan kesehatan menjadi persoalan bagi Biden. Dalam beberapa kesempatan, seperti yang tersebar luas di media sosial, Biden memang menunjukkan kerentanannya.
Di lain pihak, lawannya, Donald Trump justru meraup banyak amunisi, antara lain karena ada upaya pembunuhan terhadapnya, serta penampilan Biden saat debat.
Di sinilah titik krusial bagi Biden: apakah akan terus maju untuk memenuhi hasrat pribadi atau melihat alternatif lain yang lebih baik, logis dan menguntungkan.
Lalu apa dampak pengunduran diri Joe Biden bagi Indonesia?
Baca juga : Yang Penting, Nangkap Tikus
Secara umum, siapa pun yang terpilih sebagai Presiden AS, relatif sama saja bagi Indonesia, walaupun tetap ada dampak serta kalkulasi secara geopolitik. Nasib Indonesia lebih ditentukan oleh Presiden Indonesia, bukan Presiden Amerika Serikat.
Maju-mundurnya Indonesia lebih ditentukan oleh para elite politik, ekonomi, rakyat serta situasi-kondisi Indonesia sendiri. Bukan bangsa dan negara lain. Juga bukan oleh kemenangan Trump (Republik) atau Kamala Harris (Demokrat).
Prioritas pembangunan atau memberantas korupsi misalnya, tidak ditentukan oleh Trump atau Harris. Tapi oleh Indonesia sendiri.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.