Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi resmi memberhentikan Hasyim Asy'ari sebagai Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), secara tidak hormat. Pengumumannya disampaikan Koordinator Stafsus Presiden Ari Dwipayana, Rabu (10/7/2024) kemarin.
Kasus ini seperti melengkapi kasus yang melilit beberapa petinggi lembaga negara lainnya, seperti KPK dan Mahkamah Konstitusi (MK). DPR, DPRD, para kepala daerah, para penegak hukum, juga tidak sedikit yang terseret kasus hukum.
Kondisi “darurat” ini mestinya menjadi alarm yang sangat nyaring buat bangsa ini. Ini sudah sangat serius. Keteladanan yang mestinya ditunjukkan para pemimpin, seolah cermin yang sudah pecah.
Sebenarnya, bangsa ini punya banyak kisah keteladanan. Di awal-awal kemerdekaan sampai di era Reformasi, kita memiliki tokoh yang layak diteladani.
Baca juga : Kewajiban, Prestasi Dan Balotelli
Bung Hatta misalnya, tidak mau menjemput ibundanya menggunakan mobil dinas. Karena, alasan Bung Hatta, “itu bukan mobilku. Mobil itu milik negara”. Hatta kemudian meminjam mobil sahabatnya, Hasjim Ning, untuk menjemput ibundanya.
Mohammad Natsir, menteri penerangan yang juga pernah menjabat Perdana Menteri, punya kisah serupa. Dia sampai kesulitan membeli rumah (belakangan, pemerintah menghadiahinya sebuah rumah di Jalan Jawa, Jakpus).
Saat menjadi Menteri, Natsir cukup lama menumpang di rumah sahabatnya di kampung Bali, Tanah Abang. Kisah jasnya yang ditambal, juga menjadi kisah yang sangat melegenda mengenai kesederhanaan seorang pejabat negara.
Kisah kejujuran dan kesederhanaan Kapolri Hoegeng Iman Santosa juga sangat inspiratif. Atau, Sri Sultan HB IX yang nyatai saja memakai kaos kaki bolong, mestinya menjadi teladan bagi bangsa ini.
Baca juga : “Bangun Pelabuhan Tanpa Akses”
Belakangan, kita juga mengenal nama-nama yang melegenda seperti Mar'ie Muhammad yang dijuluki “Mr Clean”, lalu ada Hakim Agung Artijo Alkostar atau Jaksa Agung Baharuddin Lopa.
Beberapa tokoh yang sekarang masih aktif di pemerintahan atau di Ormas keagamaan, juga tidak sedikit yang menunjukkan keteladanan yang baik.
Keteladanan tokoh-tokoh tersebut mestinya dihidupkan, menjadi arus utama serta gaya hidup para pejabat saat ini. Sayangnya, yang muncul justru sebaliknya.
Bahkan, ketika para pejabat beraktifitas yang mencuat di pemberitaan justru “harga tas istrinya bisa untuk membeli rumah tipe 36, atau harga sepatunya bisa untuk merenovasi sekolah, atau gaunnya bisa untuk membeli mobil baru”.
Baca juga : 2 Plus 1 Berantas Korupsi
Karena itulah, bangsa ini sangat merindukan keteladanan dari para pemimpin. Dalam segala aspek. Keteladanan ini sudah menjadi persoalan yang sangat serius. Karena, apa yang ditunjukkan para pejabat akan diikuti oleh rakyat.
Ketika rakyat membuat hukumnya sendiri dengan “main hakim sendiri” atau dengan mudahnya melanggar aturan, termasuk aturan di jalan raya, itu merupakan “peniruan” yang dicontoh dari para pemimpin.
Bangsa ini, sangat merindukan keteladanan dari para pemimpin. Kondisinya sudah sangat mendesak dan cenderung gawat darurat. Sangat urgen.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.