Dark/Light Mode

Kewajiban, Prestasi Dan Balotelli

Selasa, 9 Juli 2024 06:42 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Terkadang, standar bangsa ini terlalu rendah. Melaksanakan kewajiban sering dianggap sebagai prestasi. Tak salah kalau Presiden Jokowi menyentil instansi pemerintah dan Pemda yang merasa sudah melahirkan prestasi ketika meraih WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dalam laporan keuangan mereka.

“WTP adalah kewajiban kita semua. Kewajiban menggunakan APBN secara baik. Ini uang rakyat. Ini uang negara,” kata Presiden di Jakarta, kemarin.

Seringkali kita juga membaca kalimat “lembaga A berhasil meraih WTP”. Bahwa itu sebuah capaian, iya. Namun, menyebutnya sebagai “keberhasilan” bisa melunturkan nilainya sebagai kewajiban. Bahwa pejabat sebelumnya tak bisa mencapai hal tersebut, itu jangan dijadikan standar.

Baca juga : “Bangun Pelabuhan Tanpa Akses” 

Mengenai hal ini, mantan striker Timnas Italia, Mario Balotelli berkata, ”ketika saya mencetak gol, saya tidak merayakannya. Itu memang kewajiban saya. Apakah tukang pos merayakannya ketika dia mengantarkan kiriman?”.

Seorang pejabat yang hebat memang sewajarnya melakukan hal-hal yang luar biasa. Ketika dia sudah melampaui level luar biasa, dan berbuat melebihi kewajibannya, barulah bisa disebut sebagai prestasi.

Ibarat seorang penjual, ketika dia menjual es batu dalam jumlah besar di musim panas, itu bukanlah prestasi. Dia baru disebut sebagai penjual hebat ketika bisa menjual es batu dalam jumlah yang sama di kutub utara.

Baca juga : 2 Plus 1 Berantas Korupsi 

Di awal-awal kemerdekaan, Presiden Soekarno pernah berkata, “kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini-syarat itu. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tetapi budak.”

Ini menggambarkan bahwa para pendiri bangsa sudah menanamkan benih standar yang sangat tinggi untuk bangsa ini. Sayangnya, sekarang kita mudah bangga hanya karena seorang aktor atau pejabat asing menyebut-nyebut nama Indonesia dalam pidato atau dialognya. “Ada Indonesia coy,” begitu meme yang sering kita lihat ketika nama Indonesia disebut.

Menurunnya standar bangsa ini bisa juga karena kita sering disodori “bad news” atau standar yang rendah oleh para pejabat. Sebut misalnya beberapa lembaga penegak hukum, atau lembaga-lembaga seperti KPU, KPK serta Mahkamah Konstitusi yang saat ini sedang mendapat sorotan tajam.

Baca juga : Payung Eksekutor

“Standar” yang ditunjukkan para pejabat tersebut membuat pejabat lain yang melakukan tugas dan kewajibannya seperti biasa, terlihat seperti sudah melahirkan prestasi.

Karena itu, kita berharap, para pemimpin bangsa serta para elite politik dan para pejabat bisa menunjukkan standar yang tinggi, secara etika, capaian dan prestasi. Berikan teladan dengan standar yang tinggi.  Dengan demikian, para pejabat dan bangsa ini akan dihargai tinggi pula.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.