Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Warning supaya Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki back up atau pencadangan data di Pusat Data Nasional (PDN) sudah disampaikan. Sayangnya, warning itu tidak (atau belum) dilaksanakan.
Dampaknya, kita sudah tahu. Data milik 282 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah di PDN terkunci, lumpuh dan tersandera. Hacker meminta tebusan Rp131 miliar. Negara tercoreng karena membuka tabir bahwa pertahanan (siber) bangsa ini rentan dan keropos.
Sedia payung sebelum hujan. Itu nasihat usang yang rupanya kurang diindahkan. Kalau pun ada payung, ada juga yang merasa, payung tersebut tidak perlu dipakai. Akibatnya kehujanan. Basah kuyup. Begitu kira-kira perumpamaannya.
Yang mengingatkan bukan hanya para ahli di bidang siber. Dirjen Imigrasi, salah satu lembaga yang menjadi korban, mengaku sudah meminta Pusat Data Nasional (PDN) supaya membuat back up data sejak April 2024. Tapi belum terwujud.
Baca juga : Pilkada, PHK Dan Reshuffle
Ini menunjukkan bahwa bangsa ini tidak kekurangan ahli atau orang-orang yang dengan setia memberi peringatan. Sayangnya, di level eksekutor, tidak jalan. Entah karena lalai atau merasa bahwa serangan itu belum ada di depan mata.
Sehebat apa pun perencanaan atau peralatan, kalau eksekusinya lemah dan tidak tepat, akan sia-sia. Itulah kenapa jabatan tinggi, seperti seorang menteri, memerlukan kemampuan dan keahlian khusus. Bukan sekadar jabatan politis.
Sebaliknya, keputusan atau eksekusi tanpa perencanaan matang, juga sangat berpotensi gagal. Mengurus warung sembako saja butuh manajemen dan perencanaan yang baik, apalagi mengurus negara.
Mengurus bangsa dan negara besar ini tak bisa menggunakan prinsip “tiba masa tiba akal”. Tak bisa reaktif atau sibuk setelah kasusnya merebak. Harus sedia payung sebelum hujan. Kalau ada serangan badai mematikan, tentu tak sekadar payung.
Baca juga : Izin Dan Keteladanan
Itulah pentingnya antisipasi dan mengukur berapa kuatnya serangan yang datang. Tentu saja, bukan sekadar itu, tapi butuh eksekusi kebijakan yang cepat dan tepat.
Para pejabat negara tak bisa juga hanya sekadar mengingatkan, menemukan masalahnya atau sekadar menganalisis. Itu tugas pengamat atau analis. Tugas orang-orang yang berdiri di pinggir lapangan sembari berteriak memberi peringatan. Bukan tugas pemegang posisi penting dan strategis sebuah bangsa besar.
Kita berharap, bangsa dan negara ini memiliki perencanaan yang baik serta eksekutor yang andal. Dua-duanya. Karena, perencanaan tanpa eksekusi hanya sekadar menjadi gagasan.
Sebaliknya, kebijakan tanpa perencanaan matang bisa macet di tengah jalan dan berantakan. Hanya sekadar memenuhi keinginan, bukan kebutuhan. Bahkan, kalaupun sudah butuh sekalipun, sebaiknya ada pertanyaan lanjutannya: butuhnya kapan? Sekarang atau nanti.
Baca juga : “Mantab” Dan Paradoks Chile
Kalau untuk back up data nasional, tentu saja butuhnya sekarang.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Minggu, 30 Juni 2024 dengan judul "Payung Eksekutor"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.