BREAKING NEWS
 

Ta’liful Quluub Untuk Wihdatul Ummah

Kamis, 17 Januari 2019 13:09 WIB
SHAMSI ALI
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Kenyataannya umat ini adalah umat yang paling terbagi ketika sudah memasuki dunia realita. Dalam realita ekonomi, politik, dan lain-lain umat ini paling terkotak-kota, bahkan dikotak-kotakkan oleh kepentingan orang lain. 

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Hanya satu jawabannya. Yaitu kembali kepada ukhuwah dan wihdatul ummah. Menyadari kembali akan persaudaraan yang sejatinya lebih kokoh dibandingkan persaudaraan seibu dan seayah. Persaudaraan yang menjadi pengikat dunia akhirat yang tidak akan terputus oleh kiamat sekalipun. 

Baca juga : Trend Jilbab (6): Jilbab Sebagai Multi Dunia

Menyadari kembali jika umat ini dengan segala ragam latar belakang dan kecenderungannya adalah satu (ummah wahidah). Dan karenanya harus ditumbuhkan kesadaran "jasad wahid" (satu tubuh) yang saling terikat, walau melakukan fungsinya masing-masing secara ragam. 

Dari semua itu satu hal yang mutlak disadari adalah bahwa yang dituntut pertama kali dalam upaya "iikhaa" dan "wihdah" itu adalah "ta'liful quluub". Menjinakkan “hati-hati” kita sehingga tidak liar dan buas terhadap sesama. 

Baca juga : Tanda-tanda Main Kotor Dalam Pemilu

Jika hati telah terjinakkan (muallafah) maka akan terjalin "kasih sayang" (ruhamaa baenahum) di antara sesama. Dan kalau ini terjadi maka perbedaan apapun yang ada akan dilalui (overlooked) bahkan dianggap "rahmah" atau jalan kebaikan yang Allah berikan kepada umat ini dalam menjalankan misi besarnya. 

Tantangan terbesar untuk menjinakkan hati-hati (quluub) ini adalah kecenderungan membangun pralaku "diktatorship" dalam kehidupan kita. Termasuk di dalamnya kediktatoran berpikir dan opini. 
Akibatnya otak dipertajam untuk mengalahkan mereka yang dianggap lawan (beda pendapat). Dan dalam prosesnya hati mengalami kebekuan. Bahkan yang tragis hati boleh saja teracuni oleh “keangkuhan”. Termasuk di dalamnya keangkuhan “perasaan” paling beragama.

Baca juga : Trend Jilbab (6): Jilbab Sebagai Multi Fenomena

Karenanya, masanya umat ini menyadari urgensi “ta’liful quluub” di atas kemenangan "pemikiran dan penafsiran” (opini). Hanya dengan itu “ukhuwah wa wihdatul ummah” akan tetap terjaga. Be smart!

Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation, Imam Islamic Center New York, Direktur Jamaica Muslim Center, New York, Pendiri Pondok Pesantren di AS dan Diaspora Indonesia di Kota New York.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense