BREAKING NEWS
 

Suntik Botox Dan Filler Bahaya Nggak Sih? Ini Penjelasan Prof. Zubairi Djoerban

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 28 Juni 2024 10:39 WIB
Ilustrasi penyuntikan botox atau filler (Foto: Net)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialisasi Hematologi Onkologi Medik, Prof. Zubairi Djoerban menyoroti fenomena botox dan filler, yang belakangan ini makin ngetren - terutama di kalangan kaum Hawa - agar terlihat cantik dan awet muda tanpa kerutan.

Dia pun mengungkit 22 kasus kejadian komplikasi berat akibat botox di 11 negara bagian Amerika Serikat (AS) pada April lalu.

“Yang harus digarisbawahi, yang mengerjakan ternyata bukan tenaga kesehatan, bukan dokter, bukan orang yang mendapat lisensi untuk mengerjakan suntik botox dan filler,” kata Prof. Zubairi via akun Instagram pribadinya, @profesorzubairi.

“Hati-hati, kalau tidak dikerjakan oleh yang bukan ahlinya,” tegasnya.

Mengutip MedEsthetics, pada 18 April 2024, sebanyak 22 orang dari 11 negara bagian AS (California, Colorado, Florida, Illinois, Kentucky, Nebraska, New Jersey, New York, Tennessee, Texas, dan Washington) melaporkan reaksi berbahaya setelah menerima suntikan toksin botulinum dari individu yang tidak memiliki izin atau tidak terlatih, atau di lingkungan non-layanan kesehatan, seperti rumah kecantikan dan spa.

Reaksi berbahaya tersebut dilaporkan terjadi pada 4 November 2023 hingga 31 Maret 2024.

“Iklan yang menyesatkan mempengaruhi masifnya treatment dari praktik yang tidak berlisensi,” kata Danielle Oyasu, NP, BSN, RN, pendiri dan CEO Beautifully New.

Dalam skenario ini, penyedia layanan mungkin secara keliru mengklaim sebagai ahli dalam memberikan suntikan botox, tanpa memiliki hak untuk melakukan hal tersebut. Baik secara kualifikasi atau pelatihan medis.

Baca juga : Menteri Siti: Perhutanan Sosial Upaya Wujudkan Keadilan Pengelolaan Lahan

"Saya juga melihat orang-orang memasang foto sebelum dan sesudah yang tidak realistis, untuk membesar-besarkan manfaat prosedur botox. Jika biaya prosedurnya tampak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, risikonya tidak akan sebanding," papar Oyasu.

Total 11 orang dalam kasus tersebut (55 persen) dirawat di rumah sakit dan 6 orang (27 persen) dirawat dengan antitoksin botulisme, karena khawatir toksin botulinum dapat menyebar ke luar area suntik.

Menurut laporan Pusat dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), dari 7 orang yang dites botulisme, 6 orang mendapat hasil negatif. Satu orang lagi, masih menunggu hasil.

Semua laporan berasal dari kaum perempuan, berusia antara 25 hingga 59 tahun, dengan usia rata-rata 41 tahun.

Semuanya melaporkan menerima suntikan ini dari individu yang tidak memiliki izin atau tidak terlatih atau di tempat non-layanan kesehatan, termasuk rumah kecantikan dan spa.

"Perawatan ini merupakan salah satu prosedur kosmetik yang paling umum dilakukan di seluruh dunia. Sayangnya, banyak juga yang mengarah pada praktik ilegal dan berbahaya,” kata Alex Sobel, D.O., FAACS, Presiden American Academy of Cosmetic Surgery.

Menurutnya, dokter, praktisi, perusahaan biofarmasi Allergan/AbbVie, Badan Pengawas Pangan dan Obat-Obatan AS (FDA) dan masyarakat harus bekerja sama untuk mencegah potensi bahaya penyuntikan botox dan neuromodulator lainnya.

Gejala Umum

Adsense

Gejala umum yang dilaporkan korban penyuntikan botox dan filler oleh orang-orang yang tidak memiliki lisensi adalah sebagai berikut:

  1. Penglihatan kabur atau penglihatan ganda
  2. Kelopak mata terkulai
  3. Kesulitan menelan
  4. Mulut kering
  5. Tidak jelas ketika berbicara
  6. Sulit bernafas
  7. Kelelahan
  8. Lemah

Keselamatan Pasien

Baca juga : SYL Instruksikan Jajarannya Tolak Permintaan Proyek, Termasuk Dari Keluarga

Tahun 2023, FDA mengatakan, siapa pun yang mempertimbangkan neurotoxin atau dermal filler harus berkonsultasi dengan penyedia berlisensi yang berpengalaman dalam menyuntikkan dermal filler, memiliki pengetahuan tentang filler, anatomi dan menangani komplikasi, serta mengetahui risiko dan manfaat pengobatan.

Oyasu mengatakan, botox telah memiliki riwayat penggunaan selama 34 tahun. Ketika digunakan oleh praktisi yang terlatih, botox memiliki profil keamanan yang sangat tinggi.

"Kejadian buruk sebenarnya cukup jarang terjadi. Saya benar-benar kecewa karena beberapa penyedia layanan kesehatan yang salah arah, telah membuat pilihan buruk. dan menempatkan pasien pada risiko. Kejadian baru-baru ini menunjukkan pentingnya memilih tenaga kesehatan profesional yang terampil dan terlatih, dan memikirkan keselamatan pasien dan hasilnya," bebernya.

American Society for Dermatologic Surgery Association (ASDSA) menyerukan negara-negara bagian AS, untuk memperkuat keselamatan pasien melalui peningkatan pengawasan terhadap perawatan medis di semua situasi.

ASDA menyatakan, kasus-kasus penyuntikan botox dan filler oleh tenaga tak berlisensi merupakan isyarat perlunya peningkatan tindakan perlindungan publik, seperti rekomendasi dalam “Undang-Undang Keamanan Spa Medis” ASDSA. Demi memastikan keselamatan pasien.

Presiden ASDSA Seth Matarasso, M.D., mengatakan, pihaknya sangat memperhatikan keselamatan pasien.

"Kami mendesak negara-negara untuk mempertimbangkan hal ini dalam mengatur praktik medis di semua rangkaian perawatan. Penting untuk memastikan semua pasien menerima produk yang disetujui FDA. Bukan perawatan palsu atau tidak aman," ujar Matarasso.

"Kurangnya peraturan dan penegakan hukum telah memungkinkan banyak orang menawarkan prosedur medis untuk tujuan kosmetik di luar kapasitas mereka," imbuhnya.

Baca juga : Cuaca Tangerang Hari Ini Per Jam Selasa 7 Mei 2024 Dari Info BMKG Terbaru

Sementara Amy Derick, M.D, Presiden Illinois Dermatological Society (IDS) menekankan pentingnya prosedur medis kosmetik yang dilakukan dokter dengan pelatihan khusus, atau mereka yang mengikuti protokol medis yang ditetapkan di bawah bimbingan dokter.

“Kasus mirip botulisme baru-baru ini di Illinois sangat mencolok. Kami mendukung ASDSA, dan menekankan pentingnya kerja sama dengan otoritas kesehatan negara bagian dalam mengadvokasi pasien. Agar menerima perawatan secara eksklusif dari profesional berlisensi, dengan menggunakan produk yang disetujui FDA," beber Derick.

Menurutnya, hal ini penting untuk menjaga standar keselamatan pasien dan kualitas layanan terbaik.

Rekomendasi Profesional Medis

CDC merekomendasikan agar provider layanan kesehatan mendorong pasien untuk menerima suntikan hanya dari pihak berlisensi yang terlatih dalam pemberian toksin botulinum yang disetujui FDA, di lingkungan layanan kesehatan berlisensi atau terakreditasi.

Beberapa negara bagian memiliki fasilitas pencarian lisensi, untuk memudahkan warganya mengecek lisensi fasilitas layanan kecantikan yang dimaksud.

“Individu yang mencari lebih dari sekedar perawatan estetika dasar atau perawatan kulit, harus memilih praktik berbasis dokter, meskipun biayanya lebih tinggi,” jelas Cynthia Elliott, M.D., pemilik dan praktisi utama Skinspirations.

"Seiring dengan meningkatnya kompleksitas suatu prosedur serta potensi komplikasi, setiap individu harus memprioritaskan dokter untuk perawatan mereka," tuturnya.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense