BREAKING NEWS
 

Please, Jangan Termakan Hoax Pemakaian Masker, Ini 3 Penjelasannya

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Minggu, 18 April 2021 11:37 WIB
Warga di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat antre takjil dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejak awal pandemi Covid berjangkit, masih banyak orang yang ogah pakai masker. Umumnya mereka berkeyakinan, memakai masker berbahaya bagi tubuh. 

Padahal, memakai masker adalah salah satu protokol kesehatan pencegahan Covid terpenting. Sepaket dengan menjaga jarak, mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas yang tak perlu.

Tim ogah pakai masker ini berpendapat, protokol kesehatan nomor wahid itu hanya akan membuat oksigen yang dihirup berkurang, dan malah menyesap karbondioksida yang menumpuk di dalam masker. Sehingga, oksigen di otak berkurang, dan karbondioksida menumpuk di tubuh.

Mereka menyebut, kondisi itu bisa membuat kita lemas. Bahkan, menyebabkan kematian.

Baca juga : Wagub Jabar Ingatkan Perusahaan Bayar THR Karyawan

Padahal faktanya, tidak demikian. Lewat akun Instagramnya, Dr. Adam Prabata yang merupakan kandidat PhD dari Kobe University Jepang menerangkan 3 alasan yang mematahkan hoax tersebut. Berikut penjelasannya:

1. Masker bedah memiliki ukuran pori-pori yang cukup besar dibanding partikel karbondioksida dan oksigen

Partikel karbondioksida dan oksigen hampir 100 ribu kali lebih kecil dibanding ukuran pori-pori masker bedah.

2. Memakai masker tidak menyebabkan kekurangan oksigen (hipoksemia).

Baca juga : PSSI Berkolaborasi Dengan FITCO, Hadirkan Layanan Makanan Sehat

Penggunaan masker N95 oleh perawat dalam durasi 12 jam, tidak menyebabkan penurunan kadar oksigen darah (Rebmann, 2013).

"Bila penurunan kadar oksigen darah tidak ditemukan pada penggunaan masker N95 yang memiliki efektivitas baik, maka penurunan kadar oksigen dalam darah juga tidak terjadi pada masker bedah dan masker kain," jelas Adam.

Adsense

3. Memakai masker tidak menyebabkan peningkatan karbondioksida darah secara signifikan (hiperkapnia).

Penggunaan masker N95 oleh perawat selama 12 jam, dapat menyebabkan peningkatan karbondioksida dalam darah. Namun, tidak sampai pada kondisi hiperkapnia. (Rebmann, 2013).

Baca juga : Asal Penuhi Syarat, 5 Kriteria Ini Boleh Lakukan Perjalanan

"Tak ada efek negatif bagi tubuh," tegas Adam.

Lalu, mengapa kita bisa merasa tidak nyaman saat memakai masker?
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense