BREAKING NEWS
 

Meski Cukup Kondusif, Status Buton Tetap Siaga Satu

Reporter : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 7 Juni 2019 13:23 WIB
Kerusuhan antar dua warga desa di Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (6/6). (Foto: Kompas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Situasi pasca bentrokan antardesa di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (5/6) hari ini, Jumat (7/6) berangsur kondusif. "Situasi dan kondisi di sinisudah cenderung kondusif," ungkap Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Goldenhart saat dikontak rmco.id, Jumat (7/6).

Sekalipun begitu, ratusan petugas kepolisian dan TNI masih disiagakan di dua desa yang terlibat bentrokan, yakni Desa Sampoabalo dan Desa Gunung Jaya. Ada 317 personel gabungan dari Polda Sultra, Polres Baubau dan Buton yang diturunkan ke lokasi. Jumat pagi ini tadi, kepolisian telah menambahkan personelnya dari satuan Brimob. Sebanyak satu Satuan Setingkat Peleton (SST) dikirim ke sana.

"Sebelumnya sudah ada 2 SSK (Satuan Setingkat Kompi) atau 200 personel Brimob dan 2 SST TNI dari Korem Haluoleo," bebernya.

Baca juga : 18 Jam Berpuasa, WNI di Kopenhagen Tetap Semangat

Polda Sultra sendiri belum mencabut status keamanan di wilayah itu menjadi siaga I. Penetapan status siaga I ini untuk menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat, dan juga mengantisipasi terjadinya konflik sosial yang dikhawatirkan akan timbul di wilayah itu.

"Untuk anggota Polda Sultra kita melaksanakan siaga 1," imbuh Harry.

Kerusuhan antarwarga dua desa di Kabupaten Buton itu telah mengakibatkan dua orang meninggal dan delapan orang luka luka. Selain itu, 87 rumah terbakar, mengakibatkan ratusan warga mengungsi ke tiga desa, yaitu Desa Laburunci, Kelurahan Kombeli, dan Desa Lapodi.

Baca juga : Meski Dalam Bentuk Aksi Damai, People Power Tetap Melanggar Hukum

"Untuk warga yang mengungsi yang terdata sampai siang ini adalah 871 jiwa," tutur Harry.

Adsense

Harry bilang, pemicu bentrokan diawali dari malam takbiran. Saat itu, sekitar 40 warga Desa Sampoabalo, rata-rata pemuda, menggelar konvoi dengan sepeda motor. Mereka menggeber-geber motor di depan Desa Gunung Jaya. Warga Desa Gunung Jaya tak terima.

Keesokan harinya, saat seorang pemuda Desa Sampoabalo hendak ke rumah saudaranya untuk berlebaran, dia dipanah saat melintas di depan Desa Gunung Jaya. Tak terima, dia mengadu kepada teman-temannya. Warga Desa Sampoabalo yang jumlahnya sekitar 100 orang, kemudian menyerang Desa Gunung Jaya. Terjadilah tragedi pembakaran itu.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense