BREAKING NEWS
 

Tertekan Hadapi Kenaikan Harga Gabah

Cegah BUMD Rugi, HET Beras Perlu Dievaluasi

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : DAUD FADILLAH
Sabtu, 2 Mei 2026 06:25 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat beras Bulog di gudang PT Food Station Tjipinang Jaya, Jakarta Timur. (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)

 Sebelumnya 
Dia menjelaskan, produsen tidak diperkenankan menjual beras di atas HET yang telah ditetapkan Pemerintah, yakni Rp 14.900 per kilogram untuk beras premium dan Rp 13.500 per kilogram untuk beras medium. 

Namun, harga gabah mengalami kenaikan signifikan. Dari HPP sebesar Rp 6.500 per kilogram, kini telah mencapai sekitar Rp 7.500 per kilogram. 

“Kalau dikonversi sederhana, dari gabah menjadi beras itu sekitar dua kali lipat. Artinya, dari Rp 7.500 sudah menjadi Rp 15.000 per kilogram beras. Itu belum termasuk biaya kemasan, distribusi, dan operasional lainnya,” jelas Dodot. 

Baca juga : Jeni Rahmadial Fitri Nyamar Jadi Dokter, Gelar Finalis Putri Indonesia Dicopot

Kondisi tersebut membuat biaya produksi beras melampaui HET yang berlaku. Sementara produsen tidak dapat menaikkan harga jual secara sepihak, karena berada dalam pengawasan Satgas Pangan. 

Menurut Dodot, salah satu solusi realistis adalah penyesuaian HET oleh Pemerintah. Dia menilai, jika harga gabah dapat ditekan kembali ke kisaran Rp 6.500 per kilogram, maka keseimbangan antara petani, produsen, dan konsumen dapat terjaga. 

“Kalau harga gabah sudah naik seperti sekarang, mau tidak mau HET juga harus disesuaikan agar produsen masih bisa beroperasi dengan margin yang wajar,” katanya. 

Baca juga : Kehormatan Terakhir Napoli Di Tepi Danau Como

Dia menambahkan, kewenangan penetapan maupun penyesuaian HET berada di tangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), yang biasanya dibahas bersama pelaku industri untuk menentukan margin ideal. 

Sebagai langkah lanjutan, Food Station berencana mengusulkan penyesuaian HET melalui asosiasi Perhimpunan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi). 

Selain itu, menyiapkan strategi alternatif dengan memperkuat penjualan beras non-HET, seperti beras organik, beras merah, varietas khusus seperti pandan wangi dan rojolele, hingga beras fortifikasi. 

Baca juga : GP Miami Dibayangi Badai Petir, Ferrari SF-26 Belum Teruji Di Trek Basah

Food Station juga akan memaksimalkan penjualan beras dalam kemasan besar untuk menekan biaya distribusi, terutama di pasar tradisional. 

Dodot menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari strategi subsidi silang agar keuangan perusahaan tetap terjaga, sekaligus menjaga daya beli masyarakat. [DRS]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense