RM.id Rakyat Merdeka - Virus Omicron makin perlu diwaspadai. Dia dianggap bertambah cerdik, bahkan bisa menipu korban-nya. Di dalam tubuh orang, dia seperti memakai topeng, menutup dirinya, sehingga bisa tidak terdeteksi saat dilakukan PCR STGF test. Ini bisa berbahaya saat menginfeksi orang-orang yang kondisinya kesehatannya rentan atau komorbid.
Baca juga : Berhenti Jumawa, Omicron Juga Bisa Membunuh Lho
Prof Tjandra Yoga Aditama menggambarkan Omicron dengan lebih detail lagi. Mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu mengatakan, saat ini dunia banyak membicarakan tentang BA2, salah satu dari varian Omicron. Varian itu dilaporkan sejumlah negara mulai meningkat laju infeksinya. “Kita ketahui bahwa BA2 dikenal sebagai stealth Omicron atau Omicron yang menipu,” kata Prof Tjandra. Disebut menipu, karena terjadi delesi fenomena S gene target failure (SGTF). Atau artinya, bisa tidak terdeteksi oleh pemeriksaan PCR, yang saat ini mulai banyak di negara kita. Metoda SGTF adalah cara khusus untuk menandai atau mendeteksi awal virus Omicron. Sistem kerjanya menyasar Gen S Spike, pada virus Covid.
Baca juga : Tips Aman PTM di Tengah Ancaman Virus Omicron Ala SoKlin Antisep
Saat ini, kata Prof Tjandra, merujuk pemberitaan media, sudah mulai ada varian BA2 di Indonesia, meski jumlahnya masih amat kecil. Tapi, kuatir bertambah banyak, maka bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kebijakan yang perlu diambil. Sehingga perlu dilakukan berbagai analisa atas kemungkinan dampaknya. “Di beberapa negara maka BA2 ini makin meningkat, seperti di India, Filipina dan juga mulai ada laporan antara lain dari Denmark, Inggris dan Jerman,” katanya. Selain BA2, Omicron juga punya varian lainnya yaitu jenis B11529, BA1, BA2 dan BA3. Menurut Prof Tjandra Yoga, data GISAID pada 25 Januari 2022 menunjukkan 98,8 persen virus yang mereka telusuri adalah jenis BA1. GISAID atau Global Initiative on Sharing All Influenza Data adalah sebuah institusi internasional yang mempelajari data genetika virus. Mereka melakukan studi ribuan genom virus dan mikroba penyebab wabah dunia.
Baca juga : Tua-Muda Tetap Potensial Tularkan Virus Corona
Dari 372.680 sampel sekuen yang dimasukkan ke GISAID dari berbagai negara di dunia berdasar spesimen yang dikumpulkan dalam 30 hari terakhir, maka 332.155 (89,1 persen) adalah Omicron, jadi memang paling banyak dari yang dimasukkan ke GISAID,” ujar Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI itu. Lalu disusul berturut-turut: varian Delta, 39.804 sampel sekuen (10,7 persen), varian Gana 28 (<0.1 persen), varian Alfa 4 (<0.1 persen), varian lain yaitu Mu dan Lambda yang tergolong dalam VOI atau varian of interest, sebanyak 2 sekuen (<0.1 persen). Pernyataan Prof Tjandra ini menarik jadi bahan kewaspadaan semua pihak. Agar masyarakat makin peduli pada protokol kesehatan, mencegah kemungkinan terinfeksi virus Omicron. Meski tingkat kematiannya rendah, tetapi tidak bisa disepelekan. NAN
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.