BREAKING NEWS
 

Indonesia Pernah EV-71

Ini Kata Prof. Tjandra Soal Kenaikan Kasus EV-11 Di Eropa

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Sabtu, 15 Juli 2023 21:26 WIB
Prof. Tjandra Yoga Aditama (Foto: Dock. Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof. Tjandra Yoga Aditama angkat bicara soal temuan WHO Kantor Regional Eropa, tentang adanya peningkatan kasus Enterovirus, Echovirus 11 (EV-11) pada bulan ini.

Prancis melaporkan 9 kasus neonatal sepsis dengan kerusakan hati (hepatic impairment) dan kegagalan multi organ (multi-organ failure). 7 dari 9 kasus itu meninggal dunia.

Kasus serupa juga terjadi di berbagai negara Eropa lain, yaitu Kroasia (1 kasus), Itali (7), Spanyol (2), Swedia (5) serta Inggris (2 kasus).

"Kasus yang meningkat di Eropa ini adalah infeksi dari Echovirus 11 (EV-11), virus Enterovirus jenis positive-strand RNA dari famili Picornaviridae," kata Prof. Tjandra dalam keterangannya, Sabtu (15/7).

Seperti juga enteroviruses pada umumnya, infeksi akibat EV-11 bisa memiliki beragam bentuk.

Baca juga : Ini Strategi Andra Soni Menangkan Prabowo Di Pilpres 2024

Yang ringan, biasanya berupa kulit kemerahan dan demam. Yang berat, bisa berbentuk gangguan sistem saraf, termasuk meningitis, ensefalitis dan kelumpuhan acute flaccid paralysis (AFP).

Echovirus 11 (EV-11) juga dilaporkan menimbulkan penyakit berat pada neonates dan bayi, yang meningkatkan angka kesakitan dan kematian. Seperti yang sekarang terjadi di Eropa.

Bentuknya dapat berupa peradangan berat pada neonates (bayi baru lahir), termasuk hepatitis akut berat dengan koagulopati.

Adsense

"EV-11 ini, bisa menular dari ibu ke anaknya," ujar Prof. Tjandra.

EV-71 Di Indonesia

Jenis enterovirus lain, yaitu EV-71 pernah dilaporkan beberapa kali di negara kita. Jenis ini menyebabkan Penyakit Tangan Kaki Mulut (PTKM) atau Hand Foot Mouth Disease – HFMD.

Baca juga : Ini Kata Prof. Tjandra Soal Antrax, Penanganan Dan Vaksinasi

Penyakit ini ditandai dengan munculnya demam, rash (ruam pada kulit) dan blister (benjolan kecil) di telapak kaki, tangan dan mukosa mulut.

Penderita cenderung tidak nafsu makan, malaise, dan mengalami nyeri pada tenggorokan.

Biasanya, setelah satu atau dua hari demam, timbul keluhan nyeri di mulut. Mulai dari blister, hingga kemudian menjadi mukus.

Lesi dapat terjadi pada lidah, gusi atau bagian dalam mulut lainnya.

Pada umumnya, PTKM yang tidak termasuk kategori penyakit berat, akan sembuh dalam 7-10 hari. Pengobatannya, hanya bersifat suportif.

Baca juga : Soroti Kasus Antraks, Prof Tjandra Bagi Pengalaman Di Maros Dan Boyolali

Sebenarnya, jelas Prof. Tjandra, penyebab HFMD adalah Enterovirus secara umum, termasuk coxsackievirus A16, EV-71 dan echovirus.

"Pada kejadian sangat jarang, HFMD akibat EV-71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan ensefalitis," pungkas mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan eks Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense