Sebelumnya
Data lain yang berhubungan dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2022 menunjukkan, total kasus sirosis hepatitis, berjumlah 175.211.
Sementara data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2019-2021 menunjukkan, total penyakit hepatitis B yang sudah diobati berjumlah 81.299.
Data lain menunjukkan, cakupan hepatitis B pada ibu hamil di tahun 2022 menyentuh angka 3.254.139. Sementara cakupan hepatitis C sejak tahun 2017 hingga Juni 2023 menunjukkan, sebanyak 858.465 orang telah menjalani tes anti HCV.
Hasilnya, 35.286 orang dinyatakan positif, 11.553 viral load terdeteksi, dan 9.527 diobati.
Baca juga : Prof. Tjandra: Jangan Cepat Ambil Kesimpulan Soal Kematian Akibat Virus Oz Di Jepang
Prof. Tjandra mengatakan, pengobatan Hepatitis C dengan metode Direct Acting Antivirus/DAA, telah dimulai di negara kita sejak 2017. Namun, metode pengobatan ini masih menghadapi tantangan dalam ketersediaannya.
"Ada pula pembicaraan yang mendorong penyediaan DAA dalam bentuk kombinasi dosis tetap (KDT), dan diusulkan untuk masuk formularium," tutur Prof. Tjandra.
Untuk pencegahan penularan dari Ibu dengan HBsAg positif ke bayi, pemerintah menyediakan hepatitis B immune globulin (HBIg), vaksinasi Hepatitis B 1-3.
Mulai tahun 2023, diberikan pengobatan pencegahan menggunakan Tenofovir.
Baca juga : Prof Tjandra Sebut 3 Hal Penting, Antisipasi Dicabutnya Status Pandemi Covid-19
"Tantangan lain yang kita hadapi adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hepatitis, dan akses terhadap layanan kesehatan komprehensif. Mulai dari pencegahan, skrining, testing, pengobatan, dan pemantauan pengobatan," papar Prof. Tjandra.
"Kemungkinan jalan keluar adalah memasifkan promosi pencegahan dan pengendalian hepatitis, dengan memanfaatkan berbagai media," imbuhnya.
Selain itu, juga perlu disediakan porsi yang cukup dalam transformasi kesehatan untuk meningkatkan akses pencegahan, tes, pengobatan, dan pemantauan pengobatan hepatitis. Khususnya pada transformasi layanan primer, layanan rujukan, dan penguatan sistem kesehatan.
Pengaturan penanggulangan penyakit menular dalam UU Kesehatan yang baru disahkan, tentunya juga akan menunjang program penanggulangan hepatitis dalam bentuk kegiatan pencegahan, pengendalian, serta perluasan tes dan pengobatan.
Baca juga : Ridwan Kamil: Jangan Beli Kecintaan Rakyat Untuk Jadi Pemimpin
Ini akan diatur lebih rinci dalam peraturan pemerintah, yang akan disusun untuk mengimplementasikan UU Kesehatan yang baru ini.
"Hepatitis adalah masalah kesehatan penting negara kita. Kita semua perlu memberi peran, agar pengendalian Hepatitis akan memberi manfaat besar, bagi peningkatan derajat kesehatan bangsa," tegas Prof. Tjandra.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.