BREAKING NEWS
 

Hoaks WNA China Bisa Ikut Pemilu Rusak Proses Demokrasi 2024

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Kamis, 26 Oktober 2023 21:44 WIB
Diskusi Publik Barisan Aktivis Timur (BAT), Hoax Ancaman Serius Persatuan Bangsa di Tahun Politik, di Hotel Bintang Baru, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/23). Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Berbagai hoaks mulai menjamur menjelang Pemilu 2024 di ruang digital. Salah satunya yang lagi santer adalah hoaks invansi Warga Negara Asing (WNA) asal China disebut dapat ikut nyoblos pada Pilpres 2024.

Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando EMaS menegaskan, beragam hoaks ini menciptakan disinformasi yang dapat merusak persatuan bangsa di tahun politik.

Dia mengingatkan, banyak negara di dunia terjadi konflik berkepanjangan karena hoaks. Sehingga, menghadapi tahun politik, seluruh pihak harus menahan diri.

"Apalagi di tahun tahun politik ini masing-masing tim sukses punya pasukan siber. Hindari konten hoaks dan informasi yang tidak tepat kepada calon tertentu dan lawan politik," pesan Fernando saat Diskusi Publik Barisan Aktivis Timur (BAT), Hoax Ancaman Serius Persatuan Bangsa di Tahun Politik, di Hotel Bintang Baru, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/23).

Dia mencontohkan, ruang publik kini dibanjiri berita-berita hoaks khususnya warga China disebut bisa nyoblos Pemilu. Ia menilai ada agenda tersembunyi sehingga hoaks ini diproduksi ulang tiap Pemilu.

Baca juga : Pentolan Musra Beda Pilihan Capres, Andi Gani: Inilah Demokrasi

"Tak bisa menutup mata bisa jadi ada persaingan kutub China dan Amerika Serikat dalam setiap Pilpres di Indonesia. Makanya isu warga China dapat KTP dan bisa nyoblos, terus ada. Meski susah dibuktikan kebenarannya, tapi ini agenda menjatuhkan lawan politik," tuturnya.

Cendikiawan Muda Nahdlatul Ulama (NU), Nur Ahmad Satria atau yang karib disapa Gus NAS menilai, hoaks ini bisa jadi agenda proxy war antara negara adidaya untuk mengadu domba sebuah bangsa dengan tidak menggunakan tangannya sendiri.

"Cuma kita nggak menyadari bahwa kita diadu domba. Ada kepentingan Amerika dan China bermain di Pemilu tahun 2024, pasti. Maka yanh didukung oleh Amerika, siapa yang didukung oleh China mulai terlihat," terangnya.

Adsense

Dia mengimbau, publik jangan terjebak oleh permainan global. Diingatkan, hancurnya Syria dan negara-negara Timur Tengah atau Arab Spring terjadi karena hoaks.

Gus NAS juga meminta publik menghindari dan waspada dengan segala bentuk provokasi di tahun politik.

Baca juga : Bappenas Minta Peserta Pemilu Susun Program Sejalan RPJPN 2025 - 2045

"Jadi jangan fanatik buta terhadap jagoannya. Persaingan itu biasa saja. Jangan sampai baperan karena kalau baper logika nggak digunakan. Lihat tuh saat Prabowo bergabung ke Jokowi setelah bertarung hebat. Makan tuh fanatik," tuturnya.

Selain itu, media maisntream juga harus dibenahi. Jangan sampai ada konflik kepentingan karena pemilik medianya punya partai politik. Dia berharap semua elemen bangsa memproduksi informasi yang proporsional.

"Khusus media sosial, di Jerman, ada dendanya kalau memuat hoaks. Di Kanada, masuk ke kurikulum pendidikan. Selain itu, butuh media pembanding yang sama cepatnya dengan menggelindingnya hoaks. Tentu penegakan hukum harus tegas," imbaunya.

Sedangkan praktisi komunikasi dari UHAMKA, Gilang Kumari Putra miris, hoaks sudah di taraf dianggap biasa oleh. Indokasinya, rutin muncul di setiap tahun politik.

"Jangan anggap hoaks adalah hal biasa. Literasi dan edukasi harus massif. Rajin verifikasi sumber dan fakta dan penegakan hukum terhadap pelaku dan sumber hoaks jangan tebang pilih," pungkasnya.

Baca juga : Ketua DKPP: Penyelenggara Pemilu Wajib Tegak Lurus Demokrasi

Di akhir acara, pemuda yang tergabung dalam Barisan Anak Timur (BAT) deklarasi dukung Pemilu damai tanpa hoaks. Poin pertama deklarasi, BAT komitmen menjaga keutuhan dan persatuan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Kedua, BAT konsisten mendukung Pemilu 2024 yang bermartabat, aman, damai tanpa hoaks, ujaran kebencian, money politik, politisasi agama dan etnis. Ketiga, BAT siap melawan hoaks dan disinformasi di medsos yang dapat dapat merusak proses demokrasi dengan saring sebelum sharing.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense