BREAKING NEWS
 

Sering Delay, Pengamat Maklumi Penerbangan Haji Lebih Kompleks Dibanding Reguler

Reporter : KINTAN PANDU JATI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Kamis, 4 Juli 2024 21:57 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat Penerbangan Gatot Rahardjo menilai, operasional penerbangan haji sangat kompleks dibanding penerbangan regular.

Pertama, penerbangan haji bersifat penerbangan non reguler atau sewa untuk waktu tertentu.

Berbeda dengan penerbangan reguler yang berjadwal, maka maskapai harus meminta persetujuan dulu kepada bandara awal dan tujuan.

Serta, meminta slot kepada pengelola slot penerbangan di bandara-bandara tersebut, baik di Indonesia maupun Arab Saudi.

Untuk penerbangan non haji baik reguler (berjadwal) maupun non reguler, permintaan persetujuan bandara dan slot ini lebih mudah karena memang di setiap bandara disediakan slot untuk penerbangan tersebut.

"Tapi, untuk penerbangan haji lebih kompleks karena jumlah penerbangannya yang lebih banyak dan waktu operasionalnya yang sempit," kata Gatot, di Jakarta, Kamis (4/7/2024).

Gatot menggambarkan jemaah haji dari Indonesia sebanyak 241 ribu orang, dibagi dalam 554 kelompok dan diterbangkan dari 13 bandara embarkasi haji selama sekitar 1 bulan untuk fase keberangkatan dan 1 bulan untuk fase kepulangan.

Baca juga : Laris Di AS, Pengharum Mobil Airpro Pede Bakal Laku Di Tanah Air

Jadi, kira-kira setiap bandara tersebut melayani sekitar 2 penerbangan keberangkatan dan 2 kepulangan haji tiap hari dengan pesawat berbadan besar yang mampu mengangkut 300-400 penumpang.

"Nah itu baru dari Indonesia. Bagaimana dengan penerbangan dari bandara lain yang juga sama-sama mengangkut jemaah haji ke Arab Saudi? Jadi, bisa dibayangkan betapa sibuknya pengelola navigasi penerbangan dan bandara di sana," ujarnya.

Kedua, kesiapan maskapainya, baik dari sisi petugas dan awak pesawat, kesiapan armada dan prosedur standar operasinya.

Di Indonesia, maskapai yang ditunjuk adalah Garuda Indonesia dan Saudia Airlines.

Garuda Indonesia ditunjuk karena dapat memenuhi kualifikasi baik teknis penerbangan maupun komersial.

Sedangkan, Saudia Airlines karena ada permintaan dari Pemerintah Arab Saudi. Tentunya mereka juga harus memenuhi syarat teknis penerbangan.

Adsense

Bagi maskapai penerbangan, kata Gatot, tantangan terbesarnya adalah menyediakan dan mempersiapkan armada dan kru serta operasional sesuai standar keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan.

Baca juga : Warga Desak Pemkot Jaksel Segera Tertibkan Cafe Di Jalan Wijaya

Maskapai juga harus berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama untuk mendapatkan izin slot baik dari Indonesia maupun Arab Saudi.

Pads tahun 2024 ini, Garuda Indonesia mengoperasikan sekitar 14 unit pesawat, yang terdiri dari 6 pesawat milik sendiri dan 8 pesawat sewa.

Sementara, Saudia Airlines menggunakan 15 unit pesawat dengan 6 unit pesawat sendiri dan 9 unit sewa.

Ketiga, kompleksitas terkait para jemaah hajinya, terutama yang dari Indonesia.

Sebagian besar jemaah terdiri dari para lansia dan mereka yang tidak pernah terbang baik domestik maupun internasional.

"Para jemaah ini tentu memerlukan penanganan khusus baik dari bandara, maskapai penerbangan serta tim khusus yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia," tutur Gatot.

Ia mengingatkan, pesawat tidak seperti bus, kereta, mobil atau kapal yang bisa berhenti di jalan untuk kemudian diperbaiki.

Baca juga : Qatar Airways, Maskapai Penerbangan Terbaik Dunia 2024

Sementara jika pesawat ada masalah, tidak bisa diperbaiki di udara. Harus mendarat dulu dengan selamat, baru bisa diperbaiki di darat.

Hal itu akan mengakibatkan pesawat delay dan waktu penerbangan menjadi lebih lama namun memang harus dilakukan.

Begitu juga kalau lalu lintas di bandara sangat padat karena pertambahan slot seperti saat penerbangan haji, maka pesawat harus antre terbang atau mendarat sesuai arahan dari petugas navigasi penerbangan.

"Hal ini juga mengakibatkan keterlambatan penerbangan dan kenyamanan terganggu. Tapi tetap harus dilakukan karena menyangkut keselamatan dan keamanan penerbangan," jelasnya.

Melihat kompleksitasnya penerbangan haji, kata Gatot, memang diharuskan koordinasi dan kerja sama yang erat dari semua stakeholder terkait, baik di Indonesia maupun di Arab Saudi, seperti pemerintah, maskapai, bandara, ground handling hingga penumpangnya sendiri.

"Kita harus bersyukur penanganan jemaah haji Indonesia secara keseluruhan relatif lebih baik dibanding negara lain. Bahkan, Garuda Indonesia beberapa kali pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Arab Saudi sebagai maskapai terbaik dalam penerbangan haji," tutup Gatot.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense