RM.id Rakyat Merdeka - Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) tengah mempersiapkan peta tanah nasional skala 1:500.000 untuk mendukung pemetaan global yang dilakukan Food Agriculture Organization (FAO). Peta tanah akan ditampilkan dengan sistem klasifikasi World References Base (WRB) yang dikembangkan lembaga PBB yaitu FAO dan Unicef.
"Indonesia telah memiliki peta tanah skala 1:250.000 dan 1:50.000 untuk seluruh Indonesia, tetapi dengan sistem klasifikasi taxonomy yang dikembangkan USDA," kata Kepala Bidang KSPHP, Balitbangtan, Kementerian Pertanian, Yiyi Sulaeman, pada Focus Group Discussion (FGD), di Jakarta, Senin (20/1).
Baca juga : Kadin Dorong Penerapan Bahan Bakar Berbasis Karet Alam
Dengan demikian, secara prinsip Indonesia tinggal melakukan pemadanan nama-nama tanah pada 2 sistem klasifikasi yang berbeda sekaligus melakukan generalisasi peta. Partisipasi Indonesia penting untuk mendukung kajian sebaran jenis-jenis tanah di dunia. Saat ini negara-negara di Afrika telah lebih dahulu menyelesaikan, sementara negara di Asia Tenggara sedang melakukannya bersama-sama, termasuk Indonesia.
Menurut Yiyi, komunitas tanah global sepakat untuk menyelesaikan peta tanah dunia karena permintaan masyarakat terhadap peta tanah semakin tinggi. "Dulu ilmuwan ilmu tanah hanya melayani sektor pertanian. Kini ilmuwan ilmu tanah juga dituntut melayani sektor lain hingga yang tak pernah terbayangkan seperti sektor kesehatan," kata Yiyi.
Baca juga : Ini Rahasia Tubuh Prima Ala Ronaldo
Demikian pula informasi tanah sangat bermanfaat untuk mitigasi bencana. Tanah dengan struktur lepas di atas lapisan kedap air ternyata berpotensi longsor ketika berada di daerah bercurah hujan tinggi. "Informasi sebaran mereka sangat berharga untuk para pengambil kebijakan," kata Yiyi.
Menurut Yiyi, peta tanah global tersebut di masa depan dapat diakses oleh semua kalangan sepanjang terkoneksi internet. "Peta tanah dapat dibuka seperti layaknya membuka Google Earth," kata Yiyi. Dengan demikian, informasi tanah semakin terbuka dan bukan monopoli ilmuwan tanah saja.
Baca juga : Fotografer Indonesia Gondol Penghargaan di Iran
FGD ini diikuti para pakar pedologi, remote sensing, dan GIS. Yaitu Prof Budi Mulyanto (Ketua Umum HITI/IPB), Prof Azwar Maas (UGM), Sri Rahayu Utami (UB), Rachmat Haryanto (UNPAD), Wirastuti Widyamanti (UGM). Dari Balitbangtan, peneliti dan pakar yang hadir adalah Prof Irsal Las, Prof Fahmudin Agus, Prof Sukarman, dan peneliti senior lainnya. FGD dilaksanakan dalam rangka review hasil kegiatan AFACI, kerja sama Balitbangtan dengan AFACI dan FAO tahun 2019. [KAL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.