RM.id Rakyat Merdeka - GREAT Institute menilai kenaikan harga Pertamax 92 naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 dan Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 untuk mengurangi tekanan fiskal pada APBN 2026.
Jauh sebelumnya, melalui kajian publik pada April 2026, GREAT Institute telah mengingatkan bahwa kombinasi tingginya harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah akan mempersempit ruang fiskal.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira mengatakan, kenaikan itu sulit dihindari setelah harga minyak bertahan jauh di atas asumsi APBN dan rupiah berada dalam tekanan.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Kenalkan Bisnis Hilir Energi ke Mahasiswa Lewat PGTC 2026
"Kami memandang keputusan ini sebagai koreksi yang diperlukan. Menahan harga Pertamax jauh melampaui asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel, serta rupiah yang menembus Rp 18.000 per dolar AS—bukanlah kebijakan yang berkelanjutan. Biayanya berisiko berpindah ke neraca Pertamina, menekan arus kas badan usaha, atau pada akhirnya menciptakan tekanan tambahan terhadap postur fiskal,” ujar Adrian.
GREAT Institute mencatat, setelah kenaikan, harga jual Pertamax masih berada di bawah estimasi harga keekonomian yang berkisar Rp 17.000-Rp 18.000 per Mei 2026. Di sisi lain, keputusan mempertahankan harga Pertalite di Rp 10.000 per liter dan Biosolar di Rp 6.800 per liter perlu dilakukan sebagai bantalan bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan pengguna transportasi yang lebih rentan terhadap kenaikan harga energi.
Adrian mengingatkan pemerintah perlu memastikan kebijakan ini tidak berhenti sebagai penyesuaian harga semata, melainkan diikuti dengan pengelolaan risiko terhadap inflasi, daya beli masyarakat, serta potensi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite.
Baca juga : GREAT Institute: Pertumbuhan Manufaktur dan Kontraksi Listrik Tidak Bertentangan
Kenaikan harga yang besar dan mendadak dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi konsumen, terutama kelompok pekerja perkotaan, pengguna sepeda motor, dan pelaku usaha kecil yang selama ini menggunakan Pertamax untuk aktivitas harian.
“Ketika masyarakat melihat harga BBM naik tajam, persepsi bahwa biaya hidup akan semakin mahal bisa ikut terbentuk,” kata Adrian.
Menurut GREAT Institute, ada tiga risiko utama yang perlu segera diantisipasi. Pertama, risiko tekanan daya beli pada kelompok menengah dan menengah-rentan pengguna kendaraan pribadi yang tidak seluruhnya merupakan kelompok kaya.
Baca juga : PAN Optimistis, Harga BBM Subsidi Tetap Stabil
Kedua, risiko kenaikan biaya operasional pada usaha kecil, logistik informal, ojek daring, dan aktivitas ekonomi harian yang sensitif terhadap biaya transportasi. Ketiga, risiko migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite akibat selisih harga yang semakin lebar.
“Risiko terbesar justru ada pada migrasi ke Pertalite. Jika pengguna Pertamax dalam jumlah besar berpindah ke Pertalite, maka potensi dampak penghematan fiskal dari kenaikan Pertamax justru bisa berkurang, bahkan sebagian tekanan dapat berpindah ke kuota dan beban subsidi Pertalite. Ini yang harus dijaga,” jelas Adrian.
Risiko ini juga menunjukkan bahwa pengendalian konsumsi Pertalite perlu berjalan beriringan dengan perluasan opsi transportasi masyarakat. Selama kelas menengah perkotaan masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi, setiap kenaikan harga energi akan langsung terasa sebagai kenaikan biaya hidup.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.