RM.id Rakyat Merdeka - Pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengamini pernyataan World Health Organization (WHO) yang menyebut Covid-19 menular lewat udara.
Menurutnya, risiko penularan lewat udara lebih rentan terjadi pada ruangan tertutup ketimbang luar ruang. Apalagi, jika sirkulasi udaranya buruk.
“Dengan adanya WHO mengakui kemungkinan ada penularan melalui aerotransmission ini. Itu sebenarnya mengesahkan untuk memperkuat tekad kita harus menggunakan masker baik di luar gedung maupun di dalam gedung,” ungkap Pandu saat acara diskusi, di Jakarta, kemarin.
Pandu menuturkan, kewaspadaan terhadap penularan lewat udara tidak hanya berlaku di tempat umum melainkan juga di tempat tinggal pribadi.
“Tempat tinggal pribadi bisa juga, kalau tempat tinggal pribadi closed, semuanya pakai pendingin dan tidak ada ventilasi, kalau satu anggota keluarga kena bisa satu keluarga kena,” jelasnya.
Baca juga : Menkopolhukam: Banyak Menteri Takut Audit BPK
Pandu memprediksi, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia akan terus meningkat karena belum mencapai masa puncak.
“Kita belum mencapai gelombang pertama, sekarang lagunya masih naik-naik ke puncak gunung. Gunung ini yang harus kita sadari. Sampai akhir tahun pun kalau kita tidak berubah cepat ya belum selesai,” ujarnya.
Menurutnya, ada dua hal yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan pandemi. Pertama, penduduk harus melakukan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
Karena itu, Pandu mendorong pemerintah untuk lebih giat mengedukasi masyarakat terkait pentingnya 3M guna mencegah penularan Covid-19.
Kedua, pemerintah harus melakukan surveillance dengan melakukan tes secara akurat, pelacakan dan mengisolasi.
Baca juga : Diperpanjang, Masa Berlaku Surat Bebas Covid-19 Untuk Naik KA Jarak Jauh
“Hanya cara itulah kita bisa mengendalikan pandemi dengan cepat sekaligus membuka kegiatan-kegaitan masyarakat supaya pulih ekonominya,” harapnya.
Dia menambahkan, untuk mengantisipasi gelombang kedua, pemerintah mesti mengidentifikasi klaster-klaster yang berpotensi menjadi sumber penularan.
Beberapa klaster yang dimaksud Pandu adalah pasar tradisional, pondok pesantren, serta sekolah kedinasan di mana para peserta didiknya tinggal di asrama.
Sementara, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengaku sudah berkomunikasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai penyebaran virus corona via udara.
“Dari beberapa kali kami mencoba berkomunikasi dengan WHO sebenarnya kasus ini lebih cenderung disebarkan oleh mikro droplet, droplet yang sangat kecil,” kata Yurianto.
Baca juga : PM Selandia Baru Marah, Memilih Terjunkan Militer
Yurianto menjelaskan, mikro droplet bisa bertahan lebih lama di satu ruangan yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Oleh sebab itu, dia menyarankan agar ruangan yang dipakai beraktivitas agar disertai dengan sirkulasi udara.
“Upayakan ini bisa kita lakukan dengan baik. Paksakan udara bergerak, apakah menggunakan kipas angin atau kipas yang untuk menghisap udara keluar, agar semuanya selalu bergerak,” imbuhnya.
Jika memungkinkan, lanjut Yurianto, jendela kantor setiap pagi dibuka agar terjadi sirkulasi udara. Jangan sampai udara tertahan sampai berhari hari tanpa ada sirkulasi yang memadai. [DIR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.