BREAKING NEWS
 

Prof. Hikmahanto Juwana

Klarifikasi Kedubes Jerman Soal Stafnya Yang Ke Markas FPI, Rendahkan Kecerdasan Publik Dan Pemerintah Indonesia

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Senin, 21 Desember 2020 13:38 WIB
Pengamat Hukum Internasional, Prof. Hikmahanto Juwana (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Belakangan, viral foto yang menggambarkan seorang yang diduga diplomat Jerman, memasuki markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat dengan mobilnya. 

Setelahnya, Kedutaan Besar (Kedubes) Jerman di Jakarta memberikan klarifikasi bahwa seorang pegawai Kedutaan Jerman berusaha untuk mendapatkan gambaran tersendiri, mengenai situasi keamanan yang bersangkutan, karena demonstrasi pada Jumat (18/12) berpotensi melintasi kawasan Kedutaan.

Penjelasan tersebut mendapat sentilan dari Pengamat Hukum Internasional yang juga Rektor Universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung, Prof. Hikmahanto Juwana.

Baca juga : Swiss Jajaki Kerja Sama Pelayanan Kesehatan Digital Dengan Indonesia

"Klarifikasi yang seperti itu sangat merendahkan tingkat kecerdasan publik dan pemerintah Indonesia," tegas Hikmahanto dalam keterangan yang diterima RMco.id, Senin (21/12).

Hikmahanto yang juga Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia punya 4 alasan terkait hal tersebut.

Adsense

Pertama, tidak dijelaskan apakah pegawai kedutaan Jerman tersebut seorang diplomat atau bukan. Kedua, tidak seharusnya pegawai Kedutaan mencari tahu tentang sesuatu dengan mendatangi markas FPI.

Baca juga : Samakan Visi Pembangunan, Kemendagri Bakal Kumpulin Kepala Daerah Se-Indonesia

"Bila pegawai tersebut ingin mencari tahu, seharusnya dilakukan ditempat yang netral, seperti hotel ataupun rumah makan," cetus Hikmahanto.

Ketiga, adalah tindakan bodoh dari pegawai Kedubes Jerman untuk datang ke Markas FPI di era sosial media. Siapa saja tentu dapat mengambil gambar dan mempostingnya di media sosial.

Keempat, pegawai tersebut bahkan tidak cerdas dan sensitif dengan situasi politik yang belakangan berkembang di Indonesia. Pegawai tersebut seolah membiarkan negara Jerman dijadikan legitimasi untuk satu pihak, dan pada saat bersamaan dinilai pihak lain sebagai tindakan yang tidak bersahabat.

Baca juga : Gibran Disebut Terseret Skandal Bansos, Ini kata KPK...

"Patut disayangkan, klarifikasi dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Meski Kedubes Jerman memberi alasan Sabtu dan Minggu libur. Sebaiknya, Duta Besar Jerman untuk Indonesia segera mengklarifikasi hal ini dan meminta maaf secara terbuka," kata peraih gelar profesor pada usia termuda dalam sejarah Fakultas Hukum Universitas Indonesia: 36 tahun.

"Selanjutnya, Dubes Jerman harus segera memulangkan pegawai kedubes yang telah bertindak secara ceroboh. Demi mencegah rusaknya hubungan diplomatik Indonesia dan Jerman," tandasnya. [NNM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense