Sebelumnya
"Setelah dilantik sebagai Pangdam III/Siliwangi, tanggal 16 November 2017, Doni menerima banyak laporan tentang Citarum, sebagai sungai terkotor di dunia.
Ketika pertama kali memberikan pengarahan kepada staf di Makodam III/Siliwangi, Doni menyampaikan tentang nama besar “Siliwangi” di berbagai palagan penugasan, baik di dalam maupun luar negeri.
Sayang, jika nama besar itu hilang karena kita saat ini tidak peduli atas persoalan yang ada di depan mata, yaitu Citarum sebagai sungai terkotor di dunia.
Salah satu 8 Wajib TNI, memuat isi: “Menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya”.
Baca juga : Jangan Takut Divaksin, Sinovac Dan AstraZeneca Sama Baiknya
"Saya katakan, bahwa pada seragam yang dikenakan prajurit Siliwangi, ada simbol Harimau atau Maung. Jangan sampai, karena kita tidak berbuat sesuatu, Maung Siliwangi berubah menjadi Meong Siliwangi. Inilah yang membuat prajurit terbakar dan mendidih darahnya untuk bisa memberikan darma bakti terbaik dalam rangka membantu masyarakat di Jawa Barat," kisah Doni.
Kodam III Siliwangi bersama dengan tim Kemenko Marvest dan Pemprov Jabar, serta Polda Jabar di bawah bimbingan Menko Marvest, Bapak Luhut Binsar Pandjaitan berkumpul menghimpun masukan-masukan dari segenap komponen masyarakat, tokoh agama, budayawan, relawan, pegiat lingkungan, bahkan media.
Tiada hari libur. Setiap hari, Doni dan pasukannya memikirkan strategi menuntaskan masalah kerusakan ekosistem Citarum.
"Nama Citarum Harum dan strategi penanganannya, saya usulkan kepada Gubernur Jabar Bapak Ahmad Heriawan dalam perjalanan dari pendopo gubernur menuju Waduk Jatigede pada tanggal 28 November 2017. Saya juga melaporkan kepada Presiden Jokowi tentang Citarum pada tanggal 4 Desember 2017," beber Doni.
Baca juga : Wakil Ketua KPK Minta Kepala Daerah di Kepri Konsisten Benahi Tata Kelola
Ketika Presiden bertanya apa yang dibutuhkan, Doni menjawab perlunya payung hukum, agar TNI bisa tetap ikut membantu memulihkan Citarum. Akhirnya, konsep regulasi yang dimotori oleh Dr. Dini Dewi yang didukung penuh oleh tim hukum Sekretariat Negara terbit melalui Perpres No 15 Tahun 2018, tanggal 15 Maret 2018.
Kurang dari sebulan, setelah Presiden Jokowi mendeklarasikan program Citarum Harum pada tanggal 22 Februari 2018 di Situ Cisanti, salah satu mata air purba di Jabar.
Proses penuntasan Citarum diawali dengan pemeriksaan sampel air yang dipimpin oleh Kakesdam III Siliwangi, Kolonel dr. Is Priyadi.
Hasilnya, air Citarum mengandung logam berat seperti Timbal, Cadmium, serta bakteri Salmonella, Ecoli, dan Pseudomonas Areogonosa.
Baca juga : Jelang Tahun Ajaran Baru, Usia Anak Menjadi Polemik Tahunan
Sayang, dr. Is Priyadi telah wafat tahun lalu, meninggalkan jasa abadi bagi pemulihan Sungai Citarum.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.