Sebelumnya
Begitu juga di YouTube, tercatat penyebaran hoaks ada 49 kasus yang berhasil di-take down sebanyak 45 kasus. Jumlah tersebut belum termasuk kasus hoax yang tersebar di WhatsApp.
Dalam diskusi yang sama, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan drg Widyawati menjelaskan, hoaks kuat karena rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia. Hal ini juga menimbulkan efek polarisasi lainnya.
Baca juga : Airlangga Ingatkan Lagi Perusahaan Swasta Bayar THR
“Ini karena ada jempol netizen yang ringan banget untuk lebih gampang menyebarkan daripada berpikir dahulu atau pelajari dulu,” terangnya.
Widyawati mengklaim, masih terus melakukan edukasi melalui berbagai langkah. Caranya, antara lain dengan menggelar diskusi virtual dan sosialisasi di medsos.
Baca juga : ASN Yang Nekat Terancam Dipecat
Semua dilakukan untuk meningkatkan literasi masyarakat terkait isu kesehatan melawan pandemi Covid-19.
“Kami terus-menerus melawan persebaran berita disinformasi. Kami tahu dan sadar kalau isu terkait kesehatan merupakan isu yang spesifik dalam mengklarifikasinya,” tuturnya.
Baca juga : Menkes BGS Dan Menlu Inggris Sehati
Menurut dia, dibutuhkan keahlian khusus dari pakar untuk mengetahui benar tidaknya sebuah informasi yang beredar.
Dia mengimbau masyarakat mempelajari sebuah berita sebelum menyebarkannya. Perlu disaring sumbernya. Kebenaran berita tersebut juga mesti bisa dipertanggungjawabkan atau tidak. [JAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.