RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Marlinda Irwanti kembali merilis buku. Kali ini, karya yang ke-17 miliknya itu berjudul Komunikasi Elit Politik. Ketika buku ini dibedah, tidak hanya membuka wawasan, juga menginspirasi seseorang menjadi calon legislatif.
"Buku Ibu Marlinda ini memberikan inspirasi, bagi saya seorang akademisi," ujar Dyah Eko Setiawati, akademisi perempuan saat bertanya di acara Bedah Buku 'Komunikasi Elit Politik’ karya Marlinda Irwanti, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (16/10).
Acara yang digelar secara offline dan online ini menghadirkan sejumlah tokoh perempuan seperti Anggota DPD utusan DKI Jakarta Sylviana Murni, Wakil Ketua Umum (Waketum) Partai Golkar Hetifah Sjaifudian, dan Calon Duta Besar Indonesia untuk Kuwait Lena Maryana Mukti serta dipandu Chief Executive Editor Rakyat Merdeka Sarif Hidayat.
Baca juga : Perubahan Iklim Hingga Digitalisasi Jadi Isu Dalam Pertemuan IMF-World Bank 2021
Sebagai akademisi perempuan, Dyah mengatakan tidak ingin hanya menjadi 30 persen pemenuh syarat partai politik saja. Namun, lebih dalam lagi, ingin menjadi bagian dari perjuangan politik perempuan. Misalnya, menjadi seorang legislator.
Marlinda yang juga Politisi Partai Golkar ini pun mengamini, literasi atau cara berkomunikasi yang baik ini perlu dimiliki elit politik, ataupun calon elit yang akan mengikuti kontestasi pesta demokrasi.
Menurutnya, model komunikasi ini terus berkembang, termasuk media baru yaitu media sosial. Bahkan, komunikasi via internet ini pesannya lebih cepat sampai ketimbang sebuah demonstrasi di di jalanan. Para elit politik, banyak yang merespon situasi nasional.
Baca juga : Bareng Warga, Jokowi Tanam Mangrove Di Pantai Wisata Raja Kecik, Bengkalis
"Literasi bisa meningkatkan pendidikan ekonomi, budaya, politik, bahkan ideologi," ujar Marlinda.
Anggota DPR 2014-2019 ini berkelakar, ada elit politik yang rajin main TikTok. Menurutnya itu baik. Asalkan, bisa memberikan pendidikan dan literasi politik kepada masyarakat. Ini, adalah salah satu corak komunikasi politik yang baru.
"Sosial media bukan hanya alat khalayak, tetapi alat perubahan demokrasi kita bisa menjadi lebih baik lagi," ungkapnya optimistis.
Baca juga : Buka Liga 2, Menpora Ingin Kompetisi Jadi Ajang Pembinaan Timnas
Untuk diketahui, buku ini dirilis tepat di hari ulang tahun Marlinda yang ke-57 tahun. Buku ini, terdiri dari lima bab. Pertama, tentang teori dan konsep elit politik. Kedua, mengenai budaya politik di Indonesia, ketiga terkait simbolisme, keempat model politik, dan terakhir membangun media baru dalam konteks komunikasi elit politik. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.