Sebelumnya
Peraturan mengenai batas aman atau toleransi BPA dalam kemasan makanan sebenarnya sudah ada dalam Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan. Di sana diatur semua persyaratan migrasi zat kontak pangan yang diizinkan digunakan sebagai kemasan pangan. Tidak hanya BPA, tapi juga zat kontak pangan lainnya.
Dalam peraturan itu juga dijelaskan, tidak ada kemasan pangan yang free dari zat kontak pangan. Tapi, di sana diatur mengenai batas aman maksimum dari zat kontak itu yang diizinkan bermigrasi ke pangannya.
Baca juga : Kemenpora Gelar Bimtek Bantuan Sarana Olahraga Di Ruang Publik
Sebelumnya, pengusaha di bidang makanan yang juga Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Franciscus Welirang mengatakan, isu BPA ebih mengarah kepada persaingan usaha. Kondisi ini, sebutnya, bisa merusak iklim investasi di Indonesia. “Ini semua masalah persaingan yang menjatuhkan perusahaan yang memproduksi galon guna ulang yang saat ini begitu banyak di Indonesia,” ujar Franky, sapaan Franciscus.
Indofood, melalui anak usahanya, juga memproduksi air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang bermerk Club. "Saya kira galon guna ulang bukan hanya Club, tapi banyak lainnya. Bisa dibayangkan berapa banyak galon guna ulang yang ada di pasar saat ini, dan berapa besar cost ekonominya jika produk ini dihilangkan,” ucap Franky.
Baca juga : KPK Perpanjang Penahanan Bupati Kuansing Andi Putra
Kalaupun berubah ke PET, menurutnya, hanya ada 2-3 merk saja yang menguasainya. Itu tidak akan mampu untuk melayani kebutuhan AMDK secara nasional. “Apakah mereka mampu melayani kebutuhan AMDK nasional?” tanya dia.
Franky juga mengatakan, BPOM seharusnya sudah mengerti akan hal itu. “Saya kira BPOM juga mengerti terhadap hal tersebut. Jadi, seharusnya tidak membuat kebijakan yang justru menjatuhkan industri yang memproduksi AMDk galon guna ulang ini,” lanjut dia.
Baca juga : Dana Partai Politik Cuma Bebani APBN
Karenanya, dia mengajak semua pihak untuk berpikir secara wajar dan logik dalam menangani pasar AMDK galon guna ulang ini. "Tidak bertindak secara emosional dan mematikan ekonomi. Karena rangkaiannya panjang dan banyak tenaga kerja yang terdampak,” katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.