BREAKING NEWS
 

Nyobain Sate Cobra

Reporter & Editor :
ERWIN TAMSAL
Rabu, 25 September 2019 06:33 WIB
Catatan :
ERWIN TAMSAL

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak kota memiliki pusat jajanan sendiri. Di Tangerang, Banten, pusat jajanan ada di kawasan Pasar Lama.

Tepatnya, di sepanjang Jalan Kisamaun. Aktivitas kawasan ini terus berdenyut, tak berhenti selama 24 jam. Buka pagi, siang dan malam hari.

Malam hari, kawasan ini disulap jadi pusat kuliner dengan aneka ragam jajanan. Jalanan dipenuhi lapak, tenda pedagang dan pembeli. Tak heran, setiap malam, apalagi awal bulan, kawasan ini penuh sesak dan macet.

Tak banyak kantung parkir di kawasan Pasar Lama ini. Jika bawa mobil, lebih baik datang sore atau sebelum magrib. Biar dapat parkir mobil.

Kalau datang malam, bisa terjebak macet cukup parah karena jala nan termakan lapak dan tenda pedagang serta dijejali pejalan kaki.

Baca juga : Nyobain Bocimi

Andai pun beruntung, kita bisa dapat memarkirkan mobil di celah antara lapak dan tenda pedagang. Sabtu dan Minggu malam, jenis kuliner tersedia semakin kaya.

Makanan langka seperti gado-gado penganten, ikan cengcuan hanya muncul di akhir pekan. Berbagai jenis kudapan ada di sini.

Mulai dari aneka jenis es, bubur ayam khas Pontianak dan bubur Koh Iyo dan Bondan. Ragam masakan ayam goreng dan bakar, seafood, roti cane, sate kambing, serta nasi uduk tersedia. Harganya pun beragam. Hingga Rp 20 ribu.

Makanan berat pun ada. Sampai santapan ekstrem seperti sate ular cobra dan biawak. Ada abon ular cobra, abon biawak. Minyak ular dan minyak biawak. Ada dua tenda menyediakan makan ekstrem.

Adsense

“Tenda Dua Cobra Kang Aat” dan “Tenda Tiga Sekawan.” Kedua kedai ini jaraknya sekitar 15 meter. Selain itu, ada beberapa jajanan legendaris karena jajanan itu sudah sejak lama hadir.

Baca juga : Nggak Jadi Mundur, Saut Cuma Cuti

Sebut saja, Es Podeng Varia, Es Bun Tin, Laksa Benteng, dan sate ayam H Ishak. Hampir sebulan sekali saya ke Pasar lama. Ya, sekedar muter-muter.

Cari jajanan bersama keluarga. Akhir pekan lalu, saya ajak istri dan anak ke Pasar Lama. Istri dan anak cari kuliner lokal. Sedangkan saya, nyobain sate ular cobra dan biawak di “Tenda Dua Cobra” milik Kang Aat.

Buka di emperan jalan. Di “Tenda Tiga Sekawan” juga dijual menu minuman darah ular cobra. Seporsi dihargai 60 ribu.

Penjualnya seorang pria tua, akrab dipanggil Encek. Dengan rutin mengkonsumsi darah ular cobra, konon berkhasiat menghaluskan kulit. Saya baru pertama kali coba sate cobra dan biawak.

Mencoba sate ekstem ini karena saya kena herpes atau penyakit kulit di bagian leher dan belakang leher. Temen kasih masukan mengkonsumsi sate ular cobra dan biawak.

Baca juga : Mobil Dinas Dan Kinerja

Saya sempat ragu. Akhirnya saya coba. Rasanya, lumayan enak. Daging sate cobra agak lembut. Biawak agak sedikit keras. Tapi, kalau dicocol ke sambel kecap dan potongan cabe rawit, sate biawak oke juga.

Dua hari pasca konsumsi sate ular dan biawak, harpes mulai mengering. Entah pengaruh makan sate. Atau obat dan salep dari dokter. Yang pasti, peminat dan pelanggan sate cobra dan biawak lumayan banyak.

Harga per porsi Rp 15 hingga Rp 20 ribu. Tenda ‘Dua Cobra” buka setiap malam pukul 17.00 hingga 23.00 WIB. Udin, salah satu pelanggan, mengaku, lebih suka menyantap sate cobra.

Kata Udin, sate cobra enak. Dagingnya lebih empuk dibandingkan biawak. “Sate cobra bisa menambah stamina dan keperkasaan,” aku Udin.

Entah benar atau tidak. Yang pasti, Udin jadi langganan tetap. Diapun tidak menganjurkan untuk mencicipi jajanan ekstrem ini. Jika berminat silakan coba.***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense