BREAKING NEWS
 

Nurutin Kolot

Reporter & Editor :
ESTI FITRIA WULANDARI
Rabu, 20 Maret 2019 08:46 WIB
Catatan :
ESTI FITRIA WULANDARI

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada kalanya nggak mengikuti kemajuan teknologi itu baik. Ada yang sampai sekarang kekeuh nggak mau punya smartphone, dan masih mengandalkan telepon rumah.

Ada juga yang ogah mengupgrade hape jadulnya menjadi yang lebih canggih. Sebenarnya, teknologi di hape membuat pekerjaan kita lebih mudah. Tapi buat mereka yang ogah mengikuti tren, nggak salah juga.

Bahkan, bisa jadi itu keputusan tepat, biar nggak gampang tergiur beragam promosi yang ditawarin marketplace. Duit mereka aman. Karena marketplace selalu membujuk calon pembeli memencet tombol checkout, lalu menyelesaikan pembayaran lewat debit rekening.

Baca juga : Februari, Nol ?

Tapi bagi yang punya smartphone, ini yang berat. Selain beragam promo belanja yang selalu datang di akhir bulan, ada rayuan lain yang nggak kalah masifnya. Yaitu pinjaman online.

Teman saya punya pengalaman buruk dengan pinjaman online ini. Saat itu dia lagi butuh duit. Dia ingat pinjaman online, yang katanya duit bisa cair dalam hitungan menit.

Adsense

Ternyata benar, uang cepat masuk ke rekeningnya, tapi dipotong biaya administrasi plus bunga lebih dari 20%. Wah gampang, pikirnya. Saking gampangnya, dalam sebulan dia lupa sudah mengklik berapa aplikasi pinjaman online.

Baca juga : Caleg Mujur

Beberapa di antaranya, dia pakai untuk membayar tagihan yang sudah jatuh tempo. Terakhir dengar kabarnya, debt collector banyak yang mencarinya. Sebab, dia sudah berganti nomor hape. Mungkin dia pikir bakal kelar urusannya. Padahal tidak.

Si debt collector malah meneror teman dan keluarganya. Mereka sering terima SMS, yang kira-kira begini isinya: Teman Anda yang bernama Si Anu telah melarikan diri dari kewajibannya membayar utang... Serem ya.

Untung nomor hape saya nggak ada dalam daftar kontaknya. Untuk hal-hal seperti ini, saya memilih menjadi orang jadul dan kolot. Selalu nurut apa kata kolot (orangtua) saya, agar selalu berhati-hati. Dan ikuti apa yang kolot saya lakukan kalau butuh uang (BU).

Baca juga : Piala Presiden, Patriot Sepi

Maklum, beliau nggak mau merepotkan anak-anaknya. Jadi kalau BU, kadang pinjam uang ke paguyuban, semacam koperasi tanpa nama yang didirikan pengurus RT/ RW. Bayarnya bisa cincay, bunganya pun super rendah.

Sementara saya kalau lagi BU, tinggal kirim WA ke pengurus koperasi kantor yang terkenal baik hati itu. Bayarnya 10 kali. Potong gaji. Di akhir tahun dapat SHU pula. Lumayan buat jajan bakso.**

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense