Sebelumnya
Kerugian Ekonomi
Fadel menjelaskan, berlarutnya perang berdampak pada ekonomi global. Baik Ukraina maupun Rusia merupakan pemasok komoditas ekonomi tertentu yang cukup signifikan. Rusia, misalnya, merupakan pemasok bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam, dan batu bara).
Menurut perkiraan European Parliament pada pertengahan Juni 2022, ekonomi OECD dengan mempertimbangkan rasio ketergantungan seluruh ekonomi negara-negara OECD pada impor dari Rusia untuk tiga bahan bakar fosil (batubara, gas, dan minyak bumi), penghentian tiba-tiba semua impor bahan bakar fosil dari Rusia akan mempengaruhi semua sektor ekonomi, terutama sektor penghasil energi, transportasi, mineral, dan manufaktur logam.
Dengan tidak mempertimbangkan substitusi sumber energi tersebut dengan sumber energi lain, lanjut Fadel secara agregat penghentian pasokan energi fosil dari Rusia dapat menyebabkan output sektor manufaktur dan jasa-jasa negara-negara OECD akan berkurang antara 2,75 -3 persen.
Baca juga : Dubes Fientje Serahkan Surat Kepercayaan Secara Virtual Kepada Raja Tonga
"Sekitar setengah dari penurunan output tersebut akan disebabkan oleh kekurangan minyak bumi dan produk minyak bumi, dengan sebagian besar sisanya dari kekurangan gas alam," terangnya.
Dikatakan Fadel embargo pasokan gas dari Rusia diasumsikan akan menaikkan harga gas global sebesar 50 persen. Sementara harga gas yang lebih tinggi akan menaikkan harga pupuk hingga 25 persen. Sedangkan meningkatnya permintaan pasokan energi diperkirakan akan meluas ke pasar minyak, dengan asumsi harga minyak dunia akan naik 10 persen.
Hal ini kata dia akan membuat pertumbuhan ekonomi negara-negara OECD terkontraksi hingga lebih dari minus 1,25 persen, pada 2023 sedangkan pertumbuhan ekonomi dunia akan terkontraksi sekitar 0,4 persen pada tahun depan. Padahal pertumbuhan ekonomi sudah menurun karena pandemi Covid-19 yang sudah lebih dari dua tahun.
Selain itu, lanjut Fadel, gangguan lainnya terlihat dari pasokan Rusia dan Ukraini ke pasar dunia untuk sejumlah komoditas non bahan bakar fosil. Dalam produk logam, Rusia menyumbang seperempat dari ekspor paladium global pada tahun 2020. Rusia dan Ukraina menyumbang seperempat dari ekspor global besi dan produk setengah jadi baja non-paduan, dan setengah dari ekspor besi kasar dunia.
Baca juga : Partai Garuda: Mereka Berpikiran Kerdil
Juga tambah Fadel, gangguan juga akan dialami di sektor pangan. Ada risiko timbulnya krisis pangan dunia. Banyak negara yang memiliki ketergantungan bahan makanan pokok yang tinggi pada Rusia dan Ukraina, yakni gandum. Negara-negara seperti Armenia memiliki ketergantungan impor gandung hingga 99 persen dari Rusia-Ukraina.
Bahkan negara-negara di Timur Tengah dan Afrika pun banyak Dia menyebut yang memiliki ketergantungan impor gandung yang tinggi pada kedua negara itu. Sudan mengimpor gandum dari Rusia dan Ukraina mencapai lebih dari 93 persen dari total impor komoditas tersebut, Lebanon 92,6 persen, Mesir 86 persen, Libya 65 persen, Tunisia 61,7 persen, Oman 58,3 persen, Namibia 52,2 persen, dan Yaman 51 persen.
"Jika impor gandum dari Rusia-Ukraina dihentikan, maka mereka akan mengalami kesulitan pangan. Padahal negara-negara tersebut masih berhadapan dengan dampak pandemi Covid-19," urainya.
Fadel menerangkan tentu saja perang juga mempengaruhi ekonomi kedua negara yang sedang berperang. Ekonomi Ukraina diperkirakan akan mengalami penurunan pertumbuhan hingga minus 45 persen. Demikian juga dengan Rusia.
Baca juga : RI Punya Kekuatan Untuk Damaikan Rusia-Ukraina
"Pada April lalu pengamat AS memperkirakan ekonomi Rusia akan terkontraksi hingga minus 15 persen. Melihat masalah tersebut upaya perdamaian Rusia-Ukraina, selain penting buat kedua negara dari sisi ekonomi, juga penting bagi ekonomi dunia," jelasnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.