BREAKING NEWS
 

E-Voting Belum Teruji

Pemilu Manual Masih Diminati

Reporter & Editor :
ACHMAD ALI FUTHUHIN
Rabu, 22 Desember 2021 07:15 WIB
Wakil Sekretaris Jenderal PKB, Luqman Hakim. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak masalah seandainya Pemilu 2024 tetap menggunakan sistem pemilihan manual, bukan berbasis teknologi seperti e-voting.

Seperti Pemilu 2019, partai yang lahir dari Nahdlatul Ulama (NU) itu optimis suara rakyat tetap tersalurkan dengan aman. “Peluang kecurangan sistem manual berjenjang hingga saat ini sangat kecil, apalagi sudah berjalan sejak lama,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PKB, Luqman Hakim kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca juga : HUT Ke-2, Bamsoet Dorong GERAK BS Terus Tebar Manfaat Bagi Masyarakat

Optimisme Luqman ini bukan tanpa sebab. Selain sistem pemilihan secara manual ini sudah berlangsung sejak Pemilu perdana pada 1955 hingga saat ini yang menggunakan sistem manual berjenjang. Artinya, di setiap jenjang seluruh pihak diberikan kesempatan untuk mengawasi.

Misalnya, saat tahapan rekapitulasi suara, seluruh partai politik, pasangan calon presiden atau wakil presiden, seluruh calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) dapat mengutus saksi-saksinya agar dapat mengawasi suara rakyat.

Baca juga : Terhalang Lumpur Merapi, Jembatan Di Lumanjang Masih Sulit Diperbaiki

Lebih dari itu, setiap proses penghitungan suara dari tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) hingga dihitung berjenjang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan diawasi langsung oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). “Kemudian, dibuka juga kesempatan pemantau independen untuk ikut mengawasi,” kata Luqman.

Nah, serangkaian transparansi itulah yang membuat PKB yakin Pemilu 2024 suara rakyat tetap aman, sekalipun tetap digelar secara manual. “Memang, katanya, potensi kecurangan selalu ada. Tetapi, peluang itu sangat kecil,” ucapnya.

Baca juga : Jaring Caleg, Partai Perindo Buka Konvensi Rakyat Berbasis Digital

Kecurangan, kata Luqman, bisa terjadi apabila semua pihak yang terlibat, misalnya KPU, Bawaslu, hingga seluruh saksi kontestan Pemilu bersekongkol untuk bertindak curang. Memang, faktanya ada beberapa daerah yang bersengketa hingga berujung pemilihan ulang.

Adsense

Namun, angka daerah yang terindikasi curang tersebut jumlahnya tidak besar dan tidak mengubah suara nasional. Pengalaman tersebut, bisa menjadi catatan agar pemilihan berlangsung lebih transparan, jujur dan adil.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense