Sebelumnya
Bagi PKPI, peristiwa ini telah mencederai demokrasi dengan partisipasi tinggi. “Luar biasa berharga, tetapi berakhir nestapa. Prestasi angka partisipasi pemilih yang tinggi menjadi tercederai,” geramnya.
Hilangnya 13,6 juta suara ini bagi PKPI bukan hal kecil. Menurutnya, para pemilih yang kehilangan suaranya itu bisa saja memutuskan golput karena merasa aspirasi politiknya tidak tersalurkan. Apalagi, saat ini di Senayan sedang membangun regulasi menaikkan PT.
Baca juga : PLN : Tagihan Juni Mahal Bukan Karena Kenaikan Tarif Listrik
“Kita semua berduka dan berdosa secara politik, karena turut membiarkan ini semua terjadi. Sebagai konsekuensinya, kita harus terus bekerja keras meyakinkan 13,6 juta pemilih yang kecewa ini, agar kembali ke TPS di Pemilu 2024,” katanya.
Nah, atas runutan peristiwa di Pemilu 2019, maka PKPI menanamkan logika sederhana bahwa PT itu sebaiknya diturunkan secara bertahap. Apabila PT tetap nekat dinaikkan, maka sangat mungkin puluhan juta suara pemilih akan hangus di tahun 2024.
Baca juga : Elite Berkarya Anggap Usulan Ambang Batas Parlemen 7 Persen Kejam
“Dan yang akan lebih sulit untuk perkembangan demokrasi kita adalah apabila tingkat kepercayaan dan partisipasi masyarakat juga turun. Jangan sampai prestasi 81 persen di Pemilu 2019 anjlok di 2024 hanya karena ambisi para oligarki kekuasaan,” tutupnya. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.