BREAKING NEWS
 

Mudik Asyik

Reporter & Editor :
SUPRATMAN
Minggu, 2 Juni 2019 01:41 WIB
SUPRATMAN

RM.id  Rakyat Merdeka - Apa yang menarik dari perjalanan mudik? Salah satunya, menikmati tulisan-tulisan kreatif yang ditempel di kendaraan. Atau di tas. Atau di koper. Tulisannya macam-macam, lucu, sejenis tulisan di bagian belakang truk yang sangat legendaris itu.

Beberapa tulisan yang terpantau, misalnya, “pulang malu, tak pulang rindu.” Tulisan itu ditempel di belakang tas pemudik. Diprint di kertas putih. Rapi. Seperti sudah direncanakanan. Mungkin untuk menghibur pengendara lain.

Tulisan “Pulang malu…” sepertinya sudah mainstream. Nyaris legendaris. Sama uzurnya dengan “Hidupku di atas roda” atau “Pergi Dicari, Pulang Dimarahi”, atau “Cintamu Tak Seberat Muatanku”.

Ada juga tulisan “nyeleneh” yang bikin ragu, harus ketawa atau harus mikir. Bunyinya: “Ngebut adalah ibadah. Semakin ngebut semakin dekat dengan Tuhan”. Hmm… Nyindir tapi mengingatkan. Satire.

Baca juga : Menanti Ahok

“Mak, maafkan anakmu. Tak bisa bawa mantu, cuma bisa bawa burung,” tulis seorang pemudik di bagian belakang kardus yang dibawanya. Dia benar-benar membawa burung. Ada sangkarnya. Ditutup kain batik. Diikat di motor. Pakai tali rafia. Kenceng.

Pak polisi tak mau kalah. Beberapa tulisan menarik dipasang di pinggir jalan. Menggunakan plang. Tulisan ini menyolok. Bunyinya: “Dilarang Ngebut… Penggali Kubur Sudah Pada Mudik Lebaran”. Pakai huruf merah. Rada-rada horor.

Bukan hanya itu, Unit Laka Polres Bogor yang memasang tulisan kreatif itu, punya pesan lain untuk para pengendara. Bunyinya: “Melawan orang tua aja dosa, apalagi melawan arus…. BISA MATI!”. Ada-ada saja.

Adsense

Ini kreatif. Mengena. Yang penting pesannya sampai. Dibanding misalnya pesan yang diawali kalimat “Dalam rangka… bla-bla-bla…”. Sudah sangat biasa. Jadul.

Baca juga : Status Tersangka Menanti

Tulisan-tulisan tersebut mewarnai arus mudik. Menambah keceriaan, mengurangi penat menghadapi kemacetan dan segala macam hambatan di jalan. Beruntung, tahun ini beberapa ruas jalan tol sudah beroperasi. Bisa lebih lancar. Lebih cepat. Semoga.

Begitulah. Seberat apa pun tantangannya, mudik butuh keceriaan. Asyik. Seperti lagu dangdut. Sesedih apa pun lagunya: diputus pacar, kantong kempes atau syairnya sangat menderita, joget jalan terus. Yang penting happy. Asyik.

Namun, banyak juga yang tidak bisa menikmati mudik. Orang tua tak bisa bertemu anak, mantu atau cucunya. Alasannya macam-macam.

Seperti kisah seorang kawan tentang saudaranya yang tinggal di luar negeri dan jarang pulang. Lebaran pun tak pulang. Kedua orang tuanya kangen. Ingin anaknya yang sudah mapan itu pulang. Mudik. Berbagai alasan sudah disampaikan supaya anaknya pulang. Tetap saja tak mempan.

Baca juga : Membunuh Tokoh

Suatu malam, ibunya menelpon si anak. “Bapakmu sakit keras…”. Menerima telepon, si anak langsung menangis. Di telepon dia berjanji akan segera pulang. Mudik.

Kedua orang tuanya tertawa gembira. Bahagia. Jingkrak-jingkrak. Lho, bukannya bapaknya sakit keras? Rupanya itu hanya trik, supaya anaknya pulang. Mudik. Bertemu orangtua. Menikmati kebersamaan. Meminta maaf. Juga berkah.

Selamat mudik. Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense