Sebelumnya
Apalagi di saat sulit, pejabat dan politisi seharusnya lebih berhati-hati dan lebih menujukkan empati dan kepekaan. Jangan milih-milih untuk berempati atau menunjukkan kepekaan. Jangan hanya peka di saat pemilu atau saat ada bencana.
Politisi dan pejabat yang bijak bisa membuat situasi sulit jadi “win-win”. Politisi serta pejabatnya senang, rakyatnya bahagia.
Baca juga : Polarisasi Akan Menguat?
Kalau kepekaannya hilang, jangankan berbisik atau berkata dengan suara normal, berteriak pun tak didengar. Seperti menjadi tuli. Terhadap rakyat.
Ketika harga kebutuhan pokok melambung misalnya, seperti cabe atau minyak goreng, politisi yang baik akan sangat peka dan tak perlu didesak berjuang untuk menuntaskannya. Bukan malah cuci tangan atau berdalih. Bukan menyalahkan rakyat. Bukan serius memperjuangkan bisnis dan kepentingan sendiri.
Baca juga : Membangun Warisan Politik Keluarga
Politik tanpa kepekaan, dala hal apa pun, sungguh sangat berbahaya. Bisa melahirkan sikap superior bahwa “saya tuannya rakyat kacungnya”.
Politik sonder sensitivitas melahirkan politisi dan pejabat yang egois. Tak terkontrol. Nganggap enteng. Tak peduli rakyat. Sehingga, bisa mengkontaminasi statement dan kebijakannya.
Baca juga : Mengobati "Candu Politik"
Karena itu, kalau belum bisa memberikan kebahagiaan kepada rakyat, setidaknya jangan melukai hati mereka, lewat ucapan, tindakan atau kebijakan.
Sesungguhnya, itulah selemah-lemahnya “iman politik”. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.