BREAKING NEWS
 

Masalah Beras Kapan Mau Beres?

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Jumat, 24 Februari 2023 05:26 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Sudah lebih dari tiga bulan, masalah naiknya harga beres belum juga beres. Saat ini, bahkan beras mulai langka. Di beberapa minimarket, rak-rak tempat beras mulai kosong. Kalaupun ada, yang tersisa hanya yang super, yang harganya sangat mahal.

Untuk mengatasi masalah, Pemerintah sebenarnya sampai merelakan “reputasi” dengan melakukan impor. Kebanggaan tidak melakukan impor beras selama beberapa tahun terakhir pun terpaksa dikesampingkan dulu, demi tercukupinya pasokan dalam negeri.

Impor pun sudah berlangsung pada Desember tahun lalu dan Januari kemarin. Sayangnya, impor ini ternyata tidak bisa menjadi “obat manjur” untuk mengatasi masalah. Meski beras impor sudah tiba, kekurangan pasokan beras di berbagai daerah masih terjadi. Akibatnya, harga beras terus melambung. Berbagai keluh kesah pun sudah disampaikan masyarakat mengenai hal ini.

Baca juga : Wamendag Pede Masa Depan Perdagangan Makin Cerah Di IKN

Kondisi ini jelas tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Bulog harus benar-benar kompak dalam mengatasinya. Jangan lagi ada ego-egoan. Jangan lagi “perang” data-data yang berbeda. Yang harus dilakukan adalah memotret kondisi sebenarnya yang terjadi di masyarakat, lalu kerjakan solusi terbaik yang sudah disepakati.

Adsense

Kalau memang pasokan beras ada di masyarakat atau petani, segera serap sebanyak-banyaknya oleh Bulog. Agar Cadangan Beras Pemerintah di gudang-gudang Bulog penuh lagi.

Kalau ada mafia yang mempermainkan pasokan dan harga beras, segera libas. Beras-beras yang ditimbun oleh mereka, segera disita. Kemudian, pelakunya diseret ke penjara.

Baca juga : Mentan: Kenaikan Harga Beras Masih Terkendali

Sebenarnya, kalau beras di petani dan masyarakat kosong, kita harus mau bicara jujur. Kita tidak perlu gengsi untuk impor lagi. Meskipun impor itu akan kembali merusak reputasi kita sebagai negara yang sukses swasembada. Tapi, demi menjaga pasokan dan stabilitas harga, terpaksa harus kita lakukan. Yang penting, setelah itu, ada evaluasi, di sisi mana kesalahan kita dalam produksi.

Masalah kelangkaan beras lebih berbahaya daripada kasus minyak goreng. Saat minyak goreng langka dan mahal, masyarakat masih bisa mengerem penggunaannya. Masyarakat bisa beralih dari kebiasaan menggoreng menjadi merebus dan sebagainya. Namun, saat beras langka, masyarakat belum punya pilihan lain. Sebab, hingga saat ini, proyek diversifikasi pangan belum berhasil. Mayoritas masyarakat kita makan nasi. Bahkan, di beberapa tempat yang dulunya punya makanan sendiri, kita malah beralih makan nasi.

Kita berharap, masalah beras ini bisa segera beres. Apalagi, kurang dari sebulan lagi kita akan memasuki Ramadan. Kelangkaan dan mahalnya beras bisa merusak momen umat untuk khusuk menjalankan ibadah puasa. Kelangkaan dan mahalnya beras juga bisa membuat inflasi melonjak, sehingga membuat pertumbuhan ekonomi terganggu.■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense