Sebelumnya
Dalam percaturan politik nasional, kita juga pernah mengalami masa-masa ketika kursi wapres tidak terisi. Lowong. Itu terjadi di era Orde Lama.
Di era Reformasi, kita punya lima orang wapres. Termasuk Jusuf Kalla (JK) yang menduduki posisi tersebut sebanyak dua kali.
Selain JK, Indonesia pernah memiliki Wapres Megawati Soekarnoputri, Hamzah Haz, Boediono dan Ma’ruf Amin. Publik tentu punya pandangan masing-masing mengenai kiprah mereka sebagai wapres.
Baca juga : Mimpi SBY Dan Jelly Bean
Kita berharap, presiden dan wapres 2024-2028 bisa terus akur sampai akhir jabatan. Kalau pun mau maju lagi di Pilpres 2029-2034, keduanya bisa tetap bersatu.
Karena, kalau salah satunya sudah bersiasat untuk berpisah, dwitunggal tersebut pasti tidak lagi fokus bekerja. Perpecahan pasti membuat gaduh.
Dalam situasi panas seperti itu, rakyat akan dipertontonkan drama Presiden dan wapres yang sibuk dengan siasat, taktik dan strateginya sendiri. Akibatnya, nasib bangsa dan negara serta rakyat Indonesia jadi taruhannya.
Baca juga : Takut Asetnya Dirampas
Kalau dwitunggal itu pecah, slogan “demi kepentingan rakyat” yang keluar dari mulut keduanya, tidak akan lagi murni seratus persen, walau diucapkan tiga kali sehari.
Itulah mengapa pencarian wapres menjadi sangat penting. Selain jangka pendek untuk mencari kemenangan di Pilpres 2024, strategi jangka panjang untuk keberlanjutan dan perbaikan bangsa dan negara, juga sangat penting.
Apalagi, wapres bukan lagi sekadar ban serep, tapi ban dalam. Harus menyatu. Tidak terpisah. Tidak menjadi pesaing yang bisa merusak harmonisasi.
Baca juga : Lari Kencang Setelah Endemi
Kita tidak berharap presiden dan wapres mendatang akan “bersanding untuk bertanding”. Karena apa yang terjadi di antara mereka, akan mempertaruhkan nasib 275 juta rakyat Indonesia. Taruhannya sangat mahal.
Itulah esensi dari istilah “dwitunggal” yang sesungguhnya. Bukan sekadar slogan
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.