Dark/Light Mode
- Sabtu Berkah Bareng Ojol, Kapolda Metro Jaya Ajak Pengemudi Utamakan Keselamatan
- Menperin: Pendidikan Vokasi Kunci Cetak SDM Industri Unggul
- Nawakara Edukasikan Generasi Muda Soal Keamanan Hingga Kepedulian Lingkungan
- BRI Peduli Salurkan 270 Unit Mesin Pompa Air Bantu Kendalikan Api di Kalimantan
- Pemprov DKI Siapkan 11 Rusun dalam APBD 2027, Rorotan dan Marunda Prioritas
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Orang Inggris menyebutnya old wine, new bottle, anggur lama dalam botol baru. Orang Italia punya istilah “cavoli riscaldati”, kubis atau kol yang dipanaskan kembali.
Kita tidak berharap budaya politik kita akan seperti itu: bukan anggur lama dalam botol baru. Bukan pula kubis yang dipanaskan berulang-ulang.
Baca juga : Perang Hidup Dan Mati?
Siapa pun pemenang Pilpres 2024, kubu keberlanjutan atau perubahan, Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, atau siapa pun, jangan sampai menerapkan tradisi politik lama, tentunya tradisi yang dinilai negatif.
Keberlanjutan pembangunan, tentu saja yang positif, adalah keniscayaan. Harus. Pemimpin baru tidak boleh tergoda nafsu politik untuk menghapus warisan mantan sehingga semuanya dinihilkan.
Baca juga : “Denda Damai” Yang Masih Meresahkan
Jangan juga seperti meme “budaya” pendidikan kita, “ganti menteri ganti kurikulum”. Akibatnya, rakyat dan peserta didik, bingung.
Apakah “anggur lama” itu? Banyak. Salah satunya, seperti yang sering digaungkan Menko Polhukam Mahfud Md: korupsi. Korupsi di darat, laut dan udara. Dimana-mana.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.