RM.id Rakyat Merdeka - Kesederhanaan yang ditunjukkan Paus Fransiskus menjadi gambaran mengenai “orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri”.
“Tiba di Jakarta dengan Pesawat Komersial, Dijemput Innova. Sri Paus Simbol Kesederhanaan,” begitu judul headline halaman depan Rakyat Merdeka, Rabu (4/9) menggambarkan sebagian kesederhanaan itu.
Tuntutan serta harapan mengenai “sudah selesai dengan dirinya sendiri,” seringkali disampaikan misalnya ketika ada pemilihan hakim agung, hakim konstitusi atau dewan pengawas KPK.
Mereka dianggap “dewa” yang sudah tidak tergoda apa pun, kecuali pengabdian tulus kepada rakyat, bangsa, negara serta keadilan dan kebenaran.
Baca juga : Anti Korupsi, Lebih Galak?
Harapan yang sama, juga selalu disampaikan kepada para pejabat eksekutif, legislatif maupun yudikatif ketika mereka mulai menjabat atau terpilih.
Sebenarnya, bangsa ini tidak kekurangan contoh dan keteladanan mengenai kesederhanaan. Mereka teguh, walau ada yang mengatakan mereka terlalu lugu karena tidak mau memanfaatkan jabatan. Sesungguhnya, mereka “menampar” bangsa ini. Sampai sekarang.
Kita ingat misalnya bagaimana Bung Hatta, yang tidak bisa membeli sepatu Bally sampai akhir hayatnya. Keinginan Bung Hatta yang tidak kesampaian itu ketahuan setelah putrinya menemukan selembar kertas iklan sepatu Bally di hari ketiga kepergian Sang Proklamator.
Bung Hatta hanya salah satu kisah teladan dan “legend” yang sampai sekarang terus dibicarakan. Masih banyak kisah para tokoh lainnya, para pejabat, yang mengedepankan kejujuran, integritas dan kesederhanaan dalam hidup mereka.
Baca juga : Kotak Kosong, Tiba-tiba Skak!
Sikap dan gaya hidup yang ditunjuk kan Tokoh-tokoh Besar tersebut mestinya menjadi sikap mainstream dari seluruh pejabat di negeri ini.
Sayangnya, yang terjadi terkadang sebaliknya. Misalnya, salah satu gedung lembaga tinggi negara bahkan diibaratkan sebagai show room mobil mewah saking banyaknya mobil mewah yang diparkir di gedung tersebut.
Bahkan, terkadang, gaya hidup para pejabat negara lebih wah dibanding para pengusaha besar atau crazy rich.
Lunturnya kesederhanaan dari para pejabat kian terasa karena adanya sikap memaklumi. Menganggapnya biasa. Bahkan dijadikan semacam “perlombaan” yang dinilai wajar.
Baca juga : Kotak Kosong,Tiba-tiba Skak!
Dampaknya, yang tadinya dianggap salah dan kurang bijak karena bisa melukai hati rakyat, dianggap benar dan wajar. Atau sebaliknya, yang benar bisa dianggap salah dan bodoh.
Sikap pemakluman dan menganggap wajar ini dilakukan secara berjamaah. Memenuhi atmosfer bangsa ini tanpa disadari, sehingga terjadilah banalitas.
Di sinilah pentingnya ketegasan sikap serta keteladanan murni dan konsisten dari para tokoh, pejabat dan pemimpin.
Karena, rakyat akan memuliakan para tokoh dan pejabat yang sederhana, penuh integritas, sebagaimana kemuliaan yang dilimpahkan kepada para tokoh bangsa terdahulu, Bung Hatta dan kawan-kawan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.