Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Kekuasaan selalu menghadirkan kesepian. Bukan kesendirian. Orang berbondong-bondong datang mendekat, tapi perasaan terisolasi seringkali tak terhindarkan.
Itulah yang pertama kali disadari oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama ketika dia mulai menjabat. Obama mengaku mendengar “nasihat” tersebut dari para mantan Presiden.
“Semua mantan Presiden menyadari, ada rasa kesepian dalam pekerjaan ini (sebagai presiden). Itu fakta yang saya rasakan,” kata Obama kepada wartawan CBS Steve Kroft di awal-awal dia menjabat.
Kenapa itu terjadi? Susan Bond, seorang penulis yang juga pendiri beberapa perusahaan rintisan menjawab: karena pemimpin memiliki hambatan untuk melakukan hubungan yang mendalam dengan rakyat kebanyakan.
Richard Norton Smith, sejarawan kepresidenan AS dan konsultan ABC News, mengakui, banyak presiden, meskipun selalu ditemani personel keamanan, anggota kabinet, dan para penasihat, kerap merasa kesepian dan terisolasi selama mereka menjabat.
Baca juga : Smooth Dan Bergejolak
“Ada sejumlah faktor yang membuat Presiden kesepian. Salah satunya, karena rasa tanggungjawab pribadi yang besar terhadap bangsa dan negara. Itu sangat kesepian,” kata Smith.
Karena itulah, banyak pemimpin di dunia mengangkat orang-orang biasa yang bisa menghibur mereka. Bahkan untuk sekadar ngopi, curhat atau ber-hahahihi.
Mereka mengangkat tukang pijat atau penata rambut pribadi atau teman main kartu yang bisa menyimpan rahasia. Bahkan, mereka mencari orang yang sekadar dijadikan “keset”.
“Orang kepercayaan yang menyenangkan” itu, tidak sedikit yang mendapat posisi penting di pemerintahan. Bagus kalau dia memiliki kapasitas. Kalau tidak, repot. Karena urusannya bangsa dan negara.
Pendiri Turki Mustafa Kemal Ataturk sering disebut sebagai salah seorang pemimpin yang kesepian ketika berada di puncak kekuasaan. Di ujung karier politiknya, alkohol, rokok serta bermain biliar menjadi pelariannya.
Baca juga : Plot Twist Negarawan
Di Istana Dolmabahce yang megah dan sepi, dia “hanya” ditemani beberapa anak angkat. Selama hidupnya, Atatürk mengadopsi tiga belas anak: satu laki-laki dan dua belas perempuan.
Begitulah. Banyak pemimpin yang “terkurung”. Terisolasi. Kesepian. Bahkan di tengah keramaian dan kehebatannya di panggung politik.
Di sekelilingnya, seringkali hanya ada kata yes. Tidak ada kata No!. Di sinilah pentingnya penyeimbang yang terkontrol. Pihak atau orang-orang yang berbicara apa adanya.
Bukan ada apanya. Kalau tidak, dopaminnya bisa bekerja tanpa bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Yang ada hanya happy. Pokoknya senang disertai keyakinan selalu benar.
Masalahnya, happy bisa lahir dari keputusan serta kebijakan yang baik. Bisa juga lahir dari keputusan serta kebijakan yang sangat berisiko. Karena itu, tidak semua orang bisa menjadi pemimpin (yang baik).
Baca juga : Reshuffle Kerakyatan
Dalam kondisi seperti inilah, kita perlu mengingatkan banyak politisi yang sekarang sedang mengincar kursi pemimpin daerah.
Jangan hanya memikirkan happy atau enaknya saja. Karena, enak atau senang itu bisa lahir dari kebijakan yang diyakini benar, tapi tidak baik serta tidak bijak.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.