Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Bagaimana melihat reshuffle kabinet, kemarin? Ada yang menilai, inilah transisi kepemimpinan paling mulus dalam sejarah Indonesia. Ada proses kesinambungan. Penyerahan tongkat estafetnya mulus. Blendingnya halus. Sangat positif.
Ada arsiran yang baik antara pemerintahan Jokowi dengan Prabowo. Sehingga, pemerintahan mendatang tidak memulainya dari nol. Bisa langsung bekerja cepat.
Bahkan, kabarnya, tiga menteri yang dilantik kemarin, juga akan menjadi menteri di kabinet Prabowo.
Ada pula yang berpendapat bahwa reshuffle ini lebih untuk menjaga keberlangsungan kekuasaan.
Baca juga : Meningkatkan Mutu Kemerdekaan
Pergantian Menteri Hukum dan HAM misalnya, dinilai bisa membuat ketar-ketir beberapa parpol. Karena, Kementerian ini bisa menentukan nasib parpol. Bisa mengesahkan salah satu kepengurusan parpol kalau terjadi dualisme kepengurusan.
Dalam minggu-minggu ini, ada empat parpol yang akan menggelar Muktamar dan Munas untuk menentukan ketua umum. Diantaranya, Golkar dan PKB.
Kalau terjadi sesuatu di antara parpol tersebut, misalnya sengketa kepengurusan atau pengkondisian tertentu, tandatangan Menteri Hukum dan HAM tentu sangat sakti dan menentukan.
Golkar yang sempat mengalami sengketa kepengurusan, pernah merasakannya. Partai Demokrat, tahun 2021 lalu, nasibnya juga sempat ditentukan oleh Menkumham Yasonna Laoly yang kemarin digantikan Supratman Andi Agtas.
Baca juga : Pilkada 2024 Pilpres 2029
Saat itu, Yasonna yang juga merupakan tokoh PDIP, menyesalkan adanya pihak-pihak yang menuding pemerintah ikut campur tangan dalam upaya pengambilalihan Partai Demokrat.
Demokrat akhirnya tetap di tangan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono. Tidak berhasil diambil oleh kepengurusan Moeldoko.
Fragmen politik yang sempat mewarnai panggung politik Indonesia itu ikut mengiringi pergantian menteri, kemarin.
Kita berharap, dalam setiap reshuffle, rakyat tetap yang nomor satu. Penyegaran kabinet harus membawa perbaikan dan manfaat positif buat rakyat. Berpolitik dan bernegaralah demi rakyat. Bukan untuk kepentingan pendek-sesaat.
Baca juga : Heboh Parpol, Jangan Lupa Rakyat
Visi kerakyatan itu pulalah yang kita harapkan mengemuka dalam proses transisi dan kesinambungan kepemimpinan nasional. Kapan pun. Tidak mudah pecah atau tergoda oleh kepentingan pribadi dan segelintir orang.
Harapan ini kita ajukan karena dalam politik Indonesia, segala sesuatu bisa berubah dengan cepat. Tergantung kepentingan. Benci secepat kilat bisa berubah jadi rindu. Atau sebaliknya, rindu berubah menjadi benci.
Perubahan benci dan rindu ini kadangkala dipengaruhi oleh hubungan personal antar elite. Hubungan tersebut bisa mengesampingkan semangat demokrasi. Bisa mengabaikan aspirasi rakyat. Bahkan, berpotensi mempengaruhi peta politik dan atmosfer kebangsaan.
Kita selalu berharap, proses transisi yang berjalan mulus bisa menyehatkan dan memperkuat sendi-sendi demokrasi. Dan, tentu saja: membawa perbaikan serta kebaikan bagi seluruh rakyat. Bagi bangsa dan negara. Bukan yang lain.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.