RM.id Rakyat Merdeka - “Klasemen Liga Korupsi” Indonesia yang kian mencengangkan mestinya melahirkan budaya baru pemberantasan korupsi.
“Klasemen” terbaru menghadirkan kasus Rp 9,9 triliun berupa pengadaan komputer di Kemendikbud. Kementerian yang mestinya menjadi motor dan teladan bagi dunia pendidikan justru tersandung korupsi di saat rakyat Indonesia sedang dihantam pandemi Covid-19.
Dari kerugian negara Rp 9,9 triliun, Kejaksaan Agung menaksir: Rp 3,58 triliun di Satuan Pendidikan dan Rp 6,399 triliun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).
DAK adalah dana APBN yang dialokasikan kepada Daerah yang membutuhkan. Tujuannya, membantu mendanai kegiatan khusus di daerah tersebut. Termasuk untuk memberantas kemiskinan.
Rangkaian kasus besar yang terungkap atau diungkap dalam empat atau lima bulan terakhir, diharapkan bisa melahirkan gerakan masif dalam pemberantasan korupsi.
Baca juga : Rutinitas Reshuffle
Bersih-bersih ini mestinya bisa dikonversi menjadi nilai “A plus” atau excellent. Sehingga, banyak manfaat luar biasa yang bisa dicapai.
Bisakah? Mestinya bisa, kalau: Pertama, kasus-kasus ini dibuka dan dituntaskan sampai akar-akarnya. Jangan menggantung atau “menyanderanya”. Jangan setengah-setengah. Apalagi kalau cuma seperempat atau sepersepuluhnya.
Semua yang terlibat harus ditindak. Kalau tidak, akan timbul perasaan impunitas dan imunitas. Kebal. Merasa biasa saja. Itu berbahaya.
Perasaan biasa dan banal akan menjadi benih kuat bagi terulangnya kasus serupa. Bahkan bisa lebih besar dan subur. Karena, perasaan “oh, cuma segitu aja, cuma sampai di situ,” akan menjadi contoh serta “pemakluman” yang sangat berisiko.
Kedua, upaya bersih-bersih ini akan membawa manfaat besar kalau bisa menuntaskan masalah ekosistem korupsi yang sudah sangat luas, akut dan kronis, di banyak lembaga.
Baca juga : Rinus Dan Total Anti Korupsi
Untuk itu, perang melawan korupsi harus menjadi sebuah sistem yang masif. Terintegrasi. Menyeluruh. Diorkestrasi dengan tegas. Dan, yang tak kalah penting: butuh keteladanan.
Sistem serta semangat ini jangan panas-panas tai ayam yang hangatnya cuma sebentar. Tapi menjadi sistem pemberantasan korupsi yang bisa berlaku selamanya. Kapan pun. Dimana pun. Kepada siapa pun. Besar atau kecil.
Ketiga, giatkan pencegahannya. Upaya preventifnya harus masif. Antara lain, bisa dimulai dan dibentengi sejak dini, seperti di sekolah dasar.
Keempat, ini puncaknya. Aksi bersih-bersih yang sekarang sedang berlangsung, bukan sekadar melahirkan sistem anti korupsi, tapi juga bisa memciptakan budaya baru anti korupsi.
Budaya ini diharapkan berjalan dengan sendirinya. Otomatis. Disertai kesadaran. Sehingga, di ujungnya, hasilnya bisa dirasakan oleh rakyat.
Baca juga : “Langkah Kanan” Jangan Diganggu
Kalau upaya dan manfaat ini bisa dicapai, nilainya A plus. Excellent. Bisa memacu dan memicu perbaikan serta lompatan besar dalam banyak aspek. Bukan sekadar terkaget-kaget melihat “klasemen liga korupsi” yang kian mencengangkan. Bukan cuma itu.
Sekarang, menarik ditunggu aksi-aksi konkretnya. Juga hasilnya. Sayang, kalau aksi bersih-bersih ini hanya berhasil mengungkap kasus per kasus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.