RM.id Rakyat Merdeka - Apakah Anda mengonsumsi beras oplosan?
Untuk memastikannya Anda bisa melihat daftar merek beras yang sudah diumumkan Kementerian Pertanian. Ada 212 merek beras medium dan premium yang diduga dioplos.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengibaratkan beras premium oplosan tersebut seperti membeli emas 24 karat namun yang diterima hanya 18 karat.
Selain beras yang tidak sesuai mutu, juga ditemukan beras yang dijual di atas harga eceran tertinggi (HET). Kemahalan.
Lalu ada juga temuan beras yang beratnya kurang dari yang tertera di kemasan. Tertulis 5 kg, sementara berat rilnya hanya 4,5 atau bahkan 4 kg.
Baca juga : Miris! Bansos untuk Judol
Rakyat tidak tahu, sudah berapa lama pengoplosan ini berlangsung. Secara ekonomi, menurut Kementan, kerugian masyarakat mencapai Rp99 triliun per tahun.
Selain itu, masalah kesehatan juga menjadi ancaman serius. Karena, beras oplosan sering kali dicampur dengan bahan-bahan berbahaya, seperti bahan kimia untuk memutihkan beras.
Yang tak kalah pentingnya yakni menurunnya kepercayaan masyarakat. Terjadi distrust. Terutama terhadap kualitas pangan yang beredar di pasar.
Kalau beras bisa dioplos dan “dipalsukan”, bagaimana yang lainnya. Dan, kita pernah mendengar ada obat palsu, kosmetik palsu, BBM oplosan, pupuk palsu, dan sebagainya.
Karena itulah, kita mengapresiasi operasi bersih-bersih ini. Kita berharap, upaya yang dilakukan Kementan bersama Satgas Pangan Polri bisa menjadi gerakan nasional yang berkesinambungan untuk semua produk. Bukan hanya beras.
Baca juga : Bukan Kisah Satu Babak
Pengawasan dari hulu ke hilir, mulai dari gudang hingga pasar, juga perlu diperketat. Di lapangan, jangan ada yang “masuk angin”, kongkalikong atau “main mata”.
Penegakan hukumnya harus tegas dan tuntas serta tidak pandang bulu. Karena, kasus pengoplosan ini bukan yang pertama kali. Namun, seolah tak ada efek jeranya. Selalu terulang.
Kenapa ini terus terjadi? Karena penanganannya tidak tuntas, tidak berkesinambungan dan tidak sinergis. Sehingga, ada keyakinan dari para pelaku bahwa “semua bisa diatur”. Atau, operasi ini hanya “panas-panas tai ayam”.
Kita berharap, selanjutnya, ada pengawasan dan pelacakan yang serius serta konsisten terhadap asal-usul beras dan jalur distribusinya.
Sebelum terbongkarnya kasus ini, sebenarnya sudah lama konsumen mengeluhkan beras premium yang dikonsumsinya rasanya berubah-ubah. Atau, beratnya kurang dari yang tertera di kemasan.
Baca juga : Menjaga “Sang Penjaga”
Di sinilah perlunya edukasi untuk membedakan beras oplosan, palsu atau asli. Kalau di bungkus rokok ada peringatan “merokok dapat menyebabkan…”, di kemasan beras juga perlu disertakan cara membedakan beras oplosan dan asli. Sistem pelaporan serta tindak lanjut yang efektif, juga sangat dibutuhkan.
Pelaporan ini bisa online atau offline. Kemudian perlu ditanggapi cepat oleh otoritas pangan. Otoritas atau lembaga ini harus bisa bekerja sat-set, cepat, tegas dan tuntas. Kita tunggu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.