RM.id Rakyat Merdeka - Dalam sebulan terakhir, empat nyawa anak, hilang. Maut yang datang dengan wajah berbeda-beda itu, meninggalkan luka yang dalam dan pertanyaan pahit: siapa yang akan melindungi mereka?
Untuk mengingatnya, kita sebutkan saja. Yang terbaru, 21 Februari 2026, di Tual, Maluku. Seorang anak, AT, 14 tahun, tewas di tangan oknum Brimob. Kapolri sudah memberi atensi besar terhadap kasus ini.
Sebelumnya, pada 29 Januari 2026, di NTT, anak kelas IV SD (YBR), mengakhiri hidupnya. Persoalannya sungguh menyayat hati: dia tidak mampu membeli buku dan pena seharga sepuluh ribuan rupiah.
Lalu,9 Februari 2026, di Matraman, Jakarta Timur. Seorang pelajar kelas XI SMK berangkat ke sekolah dengan harapan biasa. Tapi jalan rusak, banyak yang berlubang sehabis hujan, menjadi perangkap maut. Di jalan itu, perjalanannya terhenti selamanya.
Baca juga : “Durian” Dari Washington
Sepuluh hari kemudian, pada 19 Februari 2026, di Sukabumi, tragedi kembali berulang. NS, bocah malang, diduga dipaksa meneguk air panas oleh ibu tirinya. NS meninggal. Membawa luka yang tak sempat disembuhkan.
Empat kasus dalam sebulan ini adalah “pola” tragis yang menyayat hati. Anak-anak menjadi korban kekerasan, kelalaian, dan mungkin juga ketidakadilan. Mereka layu sebelum sempat mekar.
Kasus ini membunyikan alarm yang sangat nyaring. Bahwa ada hukuman untuk pelaku, iya. Tapi reformasi sistemik juga lebih penting.
Bangsa ini perlu bercermin dari kasus-kasus penuh duka ini. Perlindungan anak di rumah, sekolah, dan jalan serta pendidikan empati bagi aparat, hanya sebagian yang bisa dilakukan.
Baca juga : “Puasa Ikut Siapa?”
Akses pendidikan dan kebutuhan dasar bagi keluarga tidak mampu, juga menjadi fondasi sangat penting. Sekarang, upaya itu sudah mulai dilakukan, walau perlu ditingkatkan dan disempurnakan.
Anak-anak harus merasa aman, bukan hanya di atas kertas. Tragedi YBR, pelajar di Matraman, NS, dan AT bukan sekadar kehilangan individu, mereka adalah alarm bagi semua orang. Jangan sampai anak-anak kehilangan nyawa karena kelalaian kolektif bangsa ini.
Sungguh sangat mahal kalau kepergian keempat anak ini diperlakukan sebagai statistik atau deretan angka. Statistik itu harus “dihidupkan”, berempati dan solutif.
Di sinilah perlunya “radikalisme kepedulian”. Radikalisme kepedulian menempatkan empati bukan sebagai perasaan sesaat atau statistik sebagai angka, melainkan sebagai keberpihakan yang tegas dan konsisten terhadap yang paling rentan.
Radikalisme kepedulian menolak sikap biasa-biasa saja ketika melihat jalan berlubang, kekerasan dalam rumah, kemiskinan ekstrem, atau tindakan yang salah.
Jalan berlubang misalnya. Itu bukan sekadar masalah teknis. Jalanan adalah bagian dari hak asasi manusia. Harapan ratusan juta orang pengguna jalan dan pencari nafkah. Karena, setiap aspal yang terkelupas, nyawa taruhannya. Di situlah pentingnya radikalisme kepedulian.
Pada akhirnya, satu bangsa tidak (hanya) dinilai dari seberapa tinggi gedung pencakar langitnya, melainkan dari seberapa rendah bangsa itu bersedia membungkuk untuk memungut dan melindungi seorang anak yang terancam, terpuruk dan terjatuh.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.