Dark/Light Mode

“Panggung Tragedi”

Minggu, 8 Februari 2026 08:11 WIB
SUPRATMAN
SUPRATMAN
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Bangsa ini seperti memiliki dua panggung. Panggung pertama, para elite yang mulai memanaskan mesin untuk 2029. Panggung kedua menampilkan tragedi dari NTT: seorang anak berbuat sangat ekstrem karena tidak mampu membeli buku dan pena!

Anda sudah tahu perbuatan “sangat ekstrem” apa yang dilakukan anak bangsa yang malang itu. Kita tidak perlu menyebut caranya. Karena, yang terpenting bukan bagaimana seorang anak pergi, tapi mengapa bangsa ini membiarkannya sampai pada titik seperti itu.

Kita jangan lagi terjebak membicarakan kemiskinan sebagai angka: berapa angka kemiskinan versi Bank Dunia, berapa versi Badan Pusat Statistik. Jangan lagi sekadar menampilkan persentase, grafik, atau tren naik atau turun.

Baca juga : Optimisme Yang Keliru

Kemiskinan ekstrem bukanlah angka. Kemiskinan lebih kepada keputusan dan kebijakan. Keputusan untuk memastikan alat tulis benar-benar sampai ke anak paling jauh. Keputusan untuk menganggap seorang anak miskin sebagai krisis nasional, bukan “kasus sosial”.

Di sini, negara bukan hanya hadir melalui hal-hal besar: proyek raksasa, jalan tol, smelter, hilirisasi dan sebagainya. Negara juga wajib hadir untuk hal paling elementer: pena dan buku di tangan anak.

Tragedi dari NTT ini seharusnya menjadi alarm nasional, bukan isu seminggu atau sebulan. Tragedi ini harus dianggap sebagai darurat nasional. Krisis yang menuntut respons cepat, lintas Kementerian dan lintas anggaran. Karena, ini bukan hanya menimpa NTT, tapi juga banyak daerah lainnya.

Baca juga : Bukan Sambal Bu Rubi

Selain itu, rangkaian kasus korupsi yang sekarang membelit Indonesia, harus diperlakukan sebagai kejahatan terhadap anak-anak. Karena, setiap rupiah yang hilang itu bukan angka abstrak. Itu buku, pena, makan siang, dan harapan yang hilang.

Kita juga perlu mengingatkan para elite supaya berhenti memulai politik dari “isu-isu tingkat atas”. Mulailah dari penderitaan. Dari empati. Bukan sekadar slogan.

Kalau agenda politik dimulai dari “siapa capres atau cawapres”, maka rakyat seringkali hanya jadi penonton.

Baca juga : Gorengan Pawang

Tapi kalau dimulai dari “siapa anak yang hari ini tidak makan dan tidak punya sepatu, buku dan pena”, maka politik kembali punya jiwa. Politik yang  harus memiliki tanggung jawab dan rasa bersalah secara kolektif atau berjamaah. Di titik itulah politik Indonesia mestinya bertahta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.