BREAKING NEWS
 

Dapur Masih Berasap

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Rabu, 12 Agustus 2026 08:47 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Ratusan dapur program makan bergizi ditutup. Bukan karena negara tiba-tiba kehilangan niat baik. Tetapi karena niat baik ternyata tidak cukup untuk membuat makanan aman sampai ke mulut anak-anak.

Di situlah ironi program sosial bekerja. Di panggung politik, makan bergizi terdengar seperti janji yang hangat. Di lapangan, ia berubah menjadi urusan suhu makanan, kebersihan dapur, rantai pasok, jam distribusi, sertifikasi, petugas, dan pengawasan. Program sosial tidak cukup punya niat mulia. Ia harus punya termometer, audit, dan rasa takut mencelakakan anak.

Baca juga : Negara Jangan Mabuk

Bagi rakyat, terutama orang tua murid, persoalannya sangat sederhana. Mereka tidak sedang menitipkan anak kepada slogan. Mereka menitipkan anak kepada sistem. Jika makanan terlambat, basi, tidak higienis, atau salah kelola, yang sakit bukan angka penerima manfaat. Yang sakit adalah anak sungguhan, tubuh sungguhan, keluarga sungguhan, dan kepercayaan yang sungguh-sungguh runtuh.

Adsense

Michael Lipsky dalam Street-Level Bureaucracy mengingatkan bahwa kebijakan publik pada akhirnya hidup di tangan pelaksana lapangan. Negara boleh merancang program di meja besar, tetapi nasib program ditentukan oleh orang-orang di garis depan: juru masak, pengelola dapur, pemasok, sopir, guru, petugas kesehatan, kepala sekolah, dan pengawas daerah. Di tangan merekalah janji negara berubah menjadi pelayanan, atau berubah menjadi masalah.

Baca juga : Rupiah Ikut Gelisah

Titik buta kekuasaan adalah mengira pelaksanaan hanya soal perintah dari atas. Tidak. Semakin besar program, semakin besar pula ruang salah di bawah. Jika standar tidak jelas, pelaksana menebak. Jika pengawasan lemah, dapur bermain aman di atas kertas. Jika target terlalu cepat, kualitas dikorbankan. Jika laporan lebih penting daripada keselamatan, anak-anak menjadi korban dari ambisi administratif.

Karena itu, koreksi MBG tidak boleh berhenti pada penutupan dapur. Negara harus membangun ulang disiplin pelaksanaan: standar pangan yang tegas, inspeksi rutin, pelatihan petugas, kanal pengaduan cepat, audit rantai pasok, transparansi mitra, dan sanksi yang tidak pura-pura. Lebih baik dapur berkurang tetapi aman, daripada dapur banyak tetapi menjadi sumber cemas. Program untuk anak tidak boleh dikelola dengan mental coba-coba.

Baca juga : Merdeka dari Mahal

Dapur masih berasap. Asap itu bisa menjadi tanda makanan sedang dimasak, tetapi juga bisa menjadi tanda ada yang terbakar. Negara harus tahu bedanya. Sebab dalam urusan anak, kegagalan kebijakan bukan sekadar angka evaluasi. Ia bisa menjadi sakit perut, air mata orang tua, dan luka panjang pada kepercayaan publik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense