RM.id Rakyat Merdeka - Sekitar Agustus, langit kita seperti punya jadwal tetap: berkabut. ada istilah yang jarang kita dengar, jerebu. ada pula yang menyingkatnya menjadi asbut, asap kabut. apa pun namanya, yang dihirup tetap sama: asap. asap yang “terjadwal”.
Tahun ini, sampai Juni, hutan dan lahan yang terbakar sudah menembus 107 ribu hektar. Setara 150 ribu lapangan sepak bola. angka ini melonjak drastis dibanding tahuntahun sebelumnya.
Semua upaya dikerahkan. aparat turun, api dipadamkan, rapat digelar. Seperti ritual tahunan yang kita ulang dengan kesungguhan yang sama.
Upaya itu kita hargai. Namun, kita tidak mau menjadi bangsa yang “baru bergerak setelah masalah membesar”. Misalnya, banjir ditangani setelah air meluap. Jalan diperbaiki setelah lubangnya viral dan menelan korban. korupsi diusut setelah proyek selesai dan uang raib, bukan sejak prosesnya menunjukkan tanda-tanda kejanggalan.
Baca juga : Kursi Itu, Bukan Hadiah
Kita jago memadamkan api, tetapi lupa mengecek siapa yang masih membawa korek api.
Terkadang ada logika birokrasi yang membuat pola ini bertahan. Pencegahan itu tidak heboh. tidak dramatis, kurang seksi. keberhasilannya justru ditandai oleh sesuatu yang tidak terjadi: tidak ada banjir besar, tidak ada jalan amblas, proyek mangkrak, atau uang negara yang hilang.
Sebaliknya, respons atau tindakan setelah kejadian jauh lebih terlihat. Pejabat turun tangan, publik melihat ada tindakan. Apalagi kalau disertai dokumentasi yang kuat.
Dalam pemberantasan korupsi, misalnya, pencegahan sering kalah pamor dari penindakan. Sistem pengawasan yang bekerja diam-diam jarang mendapat perhatian. Sedangkan penangkapan pejabat bisa menjadi atensi nasional dalam hitungan menit.
Baca juga : Generasi Digital, Politiknya Analog
Penindakan tentu penting. Tetapi jangan sampai respons setelah kejadian lebih dihargai dan diutamakan dibanding pencegahan.
Kita tidak ingin anggaran dan perhatian politik mengalir ke tempat yang paling terlihat. Mestinya, ke tempat yang paling diperlukan dan menentukan.
Apalagi mencegah “kebakaran” lebih murah daripada memadamkannya. Mencegah korupsi lebih murah daripada mengejar uang yang sudah hilang. Dan pencegahan jauh lebih manusiawi.
Jadi, dalam beberapa kasus, persoalannya bukan kita kurang sigap. Bangsa ini justru terlalu sigap setelah terlambat.
Baca juga : Bukan Manajer APBD
Setiap tahun masalah yang sama dibahas dengan semangat yang sama. Rapat ada, instruksi ada, evaluasi ada. Arsipnya menumpuk. Tetapi hasilnya berulang. Bahkan bisa lebih parah.
Sangat mungkin, yang perlu dievaluasi bukan hanya masalahnya, tapi metodenya. Caranya. Polanya.
Kita tidak bisa terus memakai cara yang sama dan berharap hasil berbeda. Yang diperlukan adalah perubahan pola pikir, cara kerja, insentif, pengawasan, teknologi. Dan, bila perlu, terobosan yang tidak biasa. Kita tidak kekurangan orang yang bisa memadamkan api. Tinggal menciptakan sistemnya.
Semoga semester kedua tahun ini, atau tahun depan ada perubahan signifikan. Kita tidak lagi berbicara tentang berapa hektar yang hangus, berapa jalan yang rusak, atau berapa uang yang dikorup. Melainkan berapa banyak bencana serta potensi korupsi yang (berhasil) tidak terjadi. Dan, Kita Bukan Lagi Bangsa Pemadam Kebakaran.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.