BREAKING NEWS
 

Iman Publik Retak

Reporter & Editor :
BUDI RAHMAN HAKIM
Senin, 24 Agustus 2026 08:28 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM

RM.id  Rakyat Merdeka - Agustus belum selesai. Bendera masih berkibar, pidato kebangsaan masih terasa, dan besok negeri ini memasuki peringatan Maulid Nabi. Negara sedang dikelilingi bahasa-bahasa luhur: berdaulat, adil, makmur, amanah, akhlak, rakyat, pengabdian. Tetapi justru di tengah kata-kata besar itu, satu pertanyaan kecil menjadi sangat tajam: apakah publik masih percaya?

Di situlah ironi moral kekuasaan bekerja. Negara sering memakai bahasa moral untuk mengikat rakyat. Pejabat bicara amanah. Partai bicara pengabdian. Pemerintah bicara kesejahteraan. Aparat bicara perlindungan. Tetapi bahasa moral akan cepat aus jika kenyataan sehari-hari menunjukkan hal sebaliknya. Negara yang rajin memakai bahasa moral harus lebih takut berbohong daripada dikritik.

Baca juga : Bansos Jangan Kabur

Rakyat kecil tidak selalu menuntut negara sempurna. Mereka tahu pemerintahan sulit. Mereka tahu anggaran terbatas. Mereka tahu masalah bangsa tidak selesai dalam satu malam. Tetapi rakyat sulit menerima jika kesulitan mereka hanya dijawab dengan slogan. Mereka diminta percaya, sementara harga tetap menekan, bantuan belum tepat, hukum belum selalu adil, dan elite masih sering hidup seperti tidak ikut menanggung beban republik.

Adsense

Robert Bellah menyebut adanya civil religion: semacam agama sipil yang memberi negara bahasa moral, simbol suci, ingatan kolektif, dan rasa takdir bersama. Dalam negara modern, bendera, proklamasi, pahlawan, konstitusi, dan upacara menjadi bagian dari iman publik itu. Tetapi iman publik bukan iman buta. Ia harus dirawat oleh kejujuran institusi, keadilan kebijakan, dan kesediaan kekuasaan untuk bertobat ketika salah.

Baca juga : Elite Jangan Piknik

Titik buta kekuasaan adalah mengira legitimasi moral bisa diwarisi terus-menerus dari simbol. Tidak. Simbol hanya membuka pintu. Kepercayaan harus diperbarui setiap hari. Setiap kebohongan pejabat meretakkan iman publik. Setiap data yang dimanipulasi meretakkan iman publik. Setiap hukum yang tajam ke bawah meretakkan iman publik. Setiap kemewahan elite di tengah penghematan rakyat meretakkan iman publik. Yang retak pelan-pelan bisa runtuh diam-diam.

Karena itu, moral kekuasaan harus berhenti menjadi dekorasi pidato. Jika bicara amanah, buka data. Jika bicara adil, tegakkan hukum kepada kawan sendiri. Jika bicara rakyat, dengarkan kritik rakyat. Jika bicara akhlak, tahan diri dari kesombongan jabatan. Jika bicara pengabdian, pangkas privilese yang tidak pantas. Negara tidak perlu terlalu sering mengajari rakyat tentang moral jika ia sendiri belum disiplin mempraktikkannya.

Baca juga : Merdeka Jangan Palsu

Iman publik adalah modal paling sunyi dalam republik. Ia tidak tercatat seperti APBN, tidak diperdagangkan seperti rupiah, dan tidak dipamerkan seperti upacara. Tetapi ketika iman publik retak, semua ikut goyah: hukum, pasar, demokrasi, dan pembangunan. Negara boleh kehilangan tepuk tangan. Tetapi jangan sampai kehilangan percaya. Sebab republik yang tidak lagi dipercaya rakyatnya tinggal menunggu hari ketika kata-kata luhur berubah menjadi gema kosong.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense