RM.id Rakyat Merdeka - Maulid Nabi baru saja diperingati. Panggung berdiri, selawat bergema, pejabat hadir, spanduk terpasang, dan kata akhlak kembali terdengar di ruang publik. Tetapi setelah lampu acara padam, pertanyaan yang lebih berat datang: apakah akhlak itu ikut pulang ke kantor-kantor kekuasaan?
Di situlah ironi keagamaan negara bekerja. Maulid mudah dirayakan dengan panggung. Yang sulit adalah meniru akhlak Nabi dalam mengelola kuasa. Kita pandai memuliakan nama beliau dalam seremoni, tetapi sering gagap meneladani kejujuran, amanah, kesederhanaan, keberpihakan kepada yang lemah, dan keberanian menegakkan keadilan meski terhadap kelompok sendiri.
Rakyat kecil tidak membutuhkan Maulid yang hanya membuat jalan macet dan panggung penuh pidato. Mereka membutuhkan akhlak yang terasa dalam pelayanan publik. Akhlak ketika pejabat tidak berbohong. Akhlak ketika aparat tidak semena-mena. Akhlak ketika bantuan sampai kepada yang berhak. Akhlak ketika hukum tidak memilih wajah. Akhlak ketika rakyat miskin tidak dijadikan latar foto kesalehan elite.
Al-Māwardī dalam Adab al-Dunyā wa al-Dīn menempatkan adab sebagai dasar tertib kehidupan: agama, akal, kekuasaan, dan masyarakat hanya dapat tegak bila manusia mampu mengendalikan diri, menjaga kepercayaan, dan menunaikan hak orang lain. Dalam kerangka itu, akhlak bukan hiasan pribadi. Akhlak adalah syarat politik. Kekuasaan tanpa adab mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan yang dibungkus bahasa suci.
Baca juga : Bansos Jangan Kabur
Titik buta kekuasaan adalah mengira acara keagamaan otomatis membuat negara bermoral. Tidak. Negara bisa rajin menghadiri Maulid, tetapi tetap buruk bila anggaran bocor. Pejabat bisa fasih berselawat, tetapi tetap gagal bila kebijakannya melukai rakyat kecil. Partai bisa membawa simbol agama, tetapi tetap kehilangan akhlak bila memperdagangkan suara miskin. Agama yang hanya menjadi dekorasi kekuasaan tidak menyucikan negara; ia justru bisa dipakai untuk menutupi noda.
Karena itu, Maulid harus diturunkan dari panggung ke perilaku publik. Jika mencintai Nabi, jangan bohongi rakyat. Jika menghormati Nabi, jangan zalimi yang lemah. Jika berselawat kepada Nabi, jangan jadikan jabatan sebagai jalan memperkaya diri. Jika mengaku umat Nabi, jangan takut pada keadilan. Akhlak publik harus tampak dalam anggaran, hukum, birokrasi, pendidikan, pasar, dan cara negara memperlakukan kritik.
Baca juga : Elite Jangan Piknik
Maulid tanpa akhlak hanya menyisakan suara. Indah sebentar, hilang setelah acara selesai. Republik ini tidak kekurangan peringatan keagamaan. Yang sering kurang adalah keberanian menjadikan akhlak sebagai disiplin kekuasaan. Sebab Nabi tidak diutus untuk memperbanyak panggung. Beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.