Dark/Light Mode

Bahasa Portugis Diterapkan Dalam Kurikulum Nasional, Layakkah?

Hetifah Sjaifudian: Perlu Diuji Coba Di Daerah Historis

Rabu, 29 Oktober 2025 07:15 WIB
Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)
Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto mewacanakan penggunaan bahasa Portugis di dalam kurikulum nasional. Artinya, bahasa Portugis akan diajarkan di sekolah-sekolah.

Ide itu diungkapkan pada saat pertemuan bilateral dengan Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/10).

Presiden Prabowo menjelaskan langkah itu bertujuan semakin mendekatkan hubungan antara rakyat Indonesia dan rakyat Brazil.

Baca juga : Ubaid Matraji: Literasi Bahasa Kita Masih Tertatih-tatih

Apakah mungkin? Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan siap mengkaji permintaan Presiden Prabowo Subianto yang ingin bahasa Portugis masuk ke kurikulum pendidikan nasional.

“Kami akan mengkaji bagaimana penerapan dari arahan Bapak Presiden secara komprehensif dan tentu saja nanti kalau sudah ada hasilnya kami sampaikan,” kata Mendikdasmen Mu’ti di Jakarta, Selasa (28/10/2025) dikutip dari Antara.

Sampai saat ini, bahasa Portugis itu belum dibahas di kementerian. Menanggapi wacana tersebut, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyambut baik ide yang telah dilontarkan oleh Presiden.

Baca juga : Suara Bergetar, Menag Kenang Paus Fransiskus

Bahkan, ia mengusulkan pembelajaran bahasa Portugis di sekolah yang diwacanakan Presiden Prabowo terlebih dahulu diujicobakan di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebab, NTT merupakan daerah yang memiliki kedekatan historis dan interaksi sosial-budaya dengan negara-negara berbahasa Portugis. Daerah tersebut juga berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Namun, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji melihat pernyataan Presiden Prabowo tidak serius dalam penerapan bahasa Portugis ke dalam kurikulum nasional. “Saya kira itu hanya basa-basi diplomasi saja,” ungkap Ubaid.

Baca juga : OSO: Banyak Tokoh Akan Gabung Hanura

Daripada menerapkan bahasa Portugis, ia lebih menyarankan agar penguatan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang dianggap masih kurang maksimal.

Untuk melihat lebih jauh bagaimana pandangan Hetifah mengenai wacana penggunaan bahasa Portugis di kurikulum nasional, berikut wawancaranya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.