Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Program Studi Doktor Ilmu Politik FISIP UNAS Bedah Buku Karya Irma Indrayani
Senin, 29 Juli 2024 17:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Studi Doktor Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Nasional (UNAS) menggelar bedah buku karya Dr. Irma Indrayani, dosen di FISIP UNAS, di Ruang Exhibition UNAS, Jakarta, Kamis (25/7/2024). Judul buku yang dibedah yaitu “Pengaruh Asing dalam Kebijakan Nasional, Studi Kasus Pengembangan Industri Pesawat Terbang”.
Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid ini dibuka secara resmi Ketua Program Studi Doktor Ilmu Politik FISIP UNAS Dr. TB Massa Djafar. Dalam pidatonya, Massa Djafar menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Irma Indrayani yang telah menyelesaikan penulisan bukunya.
Massa Djafar menyatakan, buku karya Irma merupakan judul yang menarik. Judul buku yang ditulis bukan sesuatu yang asing, mengingat adanya pengaruh negara luar dalam industri pesawat. Buku yang ditulis juga merupakan bagian dari spirit perjalanan sejarah Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.
Massa Djafar mengatakan, negara yang berdaulat tidak terlepas dari intervensi asing. Intervensi asing bisa masuk ke berbagai sektor, salah satunya adalah industri pesawat.
Baca juga : Program Equibility Hadirkan Karya Inovatif Untuk Penyandang Disabilitas
“Oleh karena itu, kita harus lebih membangun negara yang lebih berdaulat agar tidak diintervensi asing. Hal ini bisa terjadi jika kita memiliki satu spirit nasionalisme,” ujar Massa Djafar, seperti keterangan yang diterima redaksi, Senin (29/7/2024).
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi bedah buku, dipandu moderator Dr. Eddy Guridno selaku Dosen di Program studi Doktor Ilmu Politik FISIP UNAS. Buku karya Irma Indrayani diulas dan dibahas oleh Prof Didin S Damanhuri dan Prof Aleksius Jemadu.
Kegiatan ini dihadiri para pakar dan akademisi yaitu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Periode 2014-2016/Guru Besar UNAS Prof Yuddy Chrisnandi, Guru Besar UNAS yang juga sebagai Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Syarif Hidayat, dan para dosen di lingkungan UNAS serta mahasiswa.
Irma Indrayani, selaku penulis buku mengatakan, buku ini adalah hasil dari disertasi yang dielaborasi menjadi buku agar lebih mudah dibaca untuk khalayak luas. “Pada dasarnya saya ingin memberi suatu wawasan bahwa dalam berbangsa dan bernegara, dalam membuat kebijakan, tidak lepas dari pengaruh dari luar dalam hal ini: asing," ucapnya.
Baca juga : Sambut Mudik, DAMRI Pastikan Armada Bersih Untuk Kenyamanan Pelanggan
"Sebagai suatu bangsa, harus mampu melihat positioning kita agar nantinya dapat bernegosiasi atau berdiplomasi terhadap apa yang ingin kita capai dalam menghadapi tekanan-tekanan dari luar,” sambungnya.
Ia berharap, dengan lahirnya buku ini, ada kesadaran dan pemahaman mengenai politik global dan pengaruhnya terhadap politik nasional. “Dengan begitu, kita bisa mengambil atau membuat kebijakan yang berpihak pada bangsa sendiri sehingga dapat memajukan negara kita,” ucapnya.
Buku yang ditulis Irma Indrayani mengkaji mengenai studi ekonomi politik terkait dengan kebijakan pemerintah terhadap industri pesawat terbang nasional periode pasca Orde Baru. Buku ini menganalisis kontestasi para aktor dalam negeri yang memiliki pengaruh dalam kebijakan pengembangan industri pesawat terbang nasional.
Tujuan utama buku ini adalah untuk menunjukkan bahwa industri pesawat terbang merupakan industri strategis yang melibatkan rancang bangun sarana/prasarana, manufaktur, teknologi, finansial yang tinggi, serta menuntut adanya kerja sama antarnegara, baik secara bilateral maupun multilateral. Kemampuan suatu negara membangun industri pesawat terbang adalah indikator utama kemajuan ilmu pengetahuan dan kekuatan ekonomi negara tersebut.
Baca juga : Gubernur BI: Kami Netral Dan Independen
Negara yang sudah sanggup memproduksi pesawat terbang bisa dipastikan sanggup memproduksi alat lain seperti mobil dan kapal laut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya