Dark/Light Mode

Revitalisasi Sekolah: Mengubah Wajah Sekolah, Menghidupkan Pembelajaran

Jumat, 15 Mei 2026 08:32 WIB
Proses revitalisasi sekolah (Foto: BKHM Kemendikdasmen)
Proses revitalisasi sekolah (Foto: BKHM Kemendikdasmen)

Bayangkan ketika ada warga sekolah, baik siswa maupun guru, masuk ke sekolahnya setiap pagi dengan perasaan waswas. Saat hujan, ia cemas; khawatir atap bocor, dan saat pergi ke toilet ia tidak merasa nyaman karena berbagai keterbasan. Dalam kondisi tersebut mereka tetap datang ke sekolah, guru tetap mengajar, dan kegiatan belajar tetap berjalan. Namun, diam-diam ada sesuatu yang hilang dari pengalaman pendidikannya yaitu rasa aman, rasa nyaman, dan kebanggaan terhadap sekolahnya sendiri.

Dari beberapa tantangan di atas, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan menemukan maknanya. Program ini harus dimaknai bukan hanya dipandang sebagai proyek fisik semata, melainkan sebagai ikhtiar besar negara untuk memperbaiki pengalaman belajar anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Marauke, dari Mianggas higga Pulau Rote. Sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat atau PHTC Presiden Prabowo Subianto, revitalisasi sekolah diarahkan untuk menghadirkan perubahan yang nyata dalam layanan dasar pendidikan.

Karena itu, Presiden Prabowo ingin agar sekolah yang direvitalisasi benar-benar menunjukkan perubahan yang nyata dan terasa getaran perubahannya. Sekolah harus tampak lebih baru, lebih layak, lebih tertata, lebih aman, dan lebih nyaman bagi murid, guru, orang tua, serta masyarakat sekitar. Dengan kata lain, revitalisasi sekolah harus terlihat oleh mata, dirasakan oleh hati, dan berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran.

Komitmen dan perhatian penuh Presiden semakin nyata jika kita melihat dari skala program yang terus meningkat. Pada tahun 2025, program revitalisasi satuan pendidikan secara nasional menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melampaui target awal 10.440 satuan pendidikan. Sementara itu, pada 2026 cakupannya diproyeksikan meningkat jauh lebih besar, yaitu 71.744 satuan pendidikan. Angka ini menunjukkan bahwa revitalisasi bukan agenda kecil, melainkan gerakan nasional untuk memperbaiki wajah pendidikan Indonesia dari ruang paling Dasar yaitu dimulai dari sekolah yang layak, aman, dan nyaman.

Sejalan dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa revitalisasi satuan pendidikan difokuskan pada sekolah terdampak bencana, daerah 3T, serta sekolah yang mengalami kerusakan berat. Arah kebijakan ini penting karena revitalisasi bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga mengurangi ketimpangan pengalaman belajar. Anak-anak Indonesia, di mana pun mereka berada, berhak belajar di ruang yang aman, layak, dan bermartabat.

Baca juga : Mendikdasmen: Revitalisasi Sekolah-Pendidikan Berkualitas untuk Memuliakan Murid

Lebih jauh, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, memberi penekanan bahwa revitalisasi bukan semata memperbaiki tembok, atap, dan ruang kelas. Revitalisasi adalah investasi besar bagi masa depan murid dari generasi ke generasi. Artinya, setiap ruang yang dibangun, setiap toilet yang diperbaiki, setiap halaman yang ditata, dan setiap fasilitas yang diperbarui harus diarahkan untuk menghadirkan harapan baru bagi anak-anak Indonesia dari kota-kota besar hingga ujung negeri.

Bimtek Memiliki Peran Vital

Namun, program besar seperti ini tidak bisa berjalan hanya dengan niat baik dan anggaran besar. Karena itu, sebelum program dijalankan di satuan pendidikan, Kemendikdasmen memiliki prinsip menyiapkan tahapan yang jelas, terukur, dan transparan. Sekolah tidak serta-merta menerima bantuan tanpa proses. Ada tahapan perencanaan, pengusulan dari dinas pendidikan, verifikasi validasi berbagai dokumen terutama legalitas lahan agar tidak ada sengketa di kemudian hari, hingga penetapan penerima bantuan. Dengan tahapan ini, bantuan diharapkan benar-benar diberikan kepada sekolah yang membutuhkan, memenuhi kriteria, dan siap melaksanakan program dengan optimal.

Dalam alur tersebut, bimbingan teknis atau bimtek memiliki posisi yang sangat penting. Bimtek harus dimaknai bukan sekadar kegiatan pendahuluan, apalagi hanya forum administratif. Sebaliknya, bimtek merupakan tahap pra-pelaksanaan setelah sekolah dinilai layak menerima bantuan program. Kepala sekolah dan operator sekolah yang hadir sudah memasuki pintu berikutnya yaitu menyiapkan pelaksanaan revitalisasi agar berjalan tepat sasaran, tepat mutu, transparan, dan berdampak.

Di sinilah teori kebijakan publik menjadi relevan. Keberhasilan program tidak berhenti pada perumusan kebijakan, sebab tantangan terbesar justru berada pada tahap implementasi. Banyak kebijakan yang baik tidak mencapai hasil optimal karena terjadi jarak antara desain kebijakan di tingkat pusat dan pelaksanaan di lapangan. Oleh karena itu, bimtek hadir untuk memperkecil jarak tersebut. Ia menjadi jembatan antara kebijakan Presiden dan perubahan nyata di sekolah-sekolah yang mendapatkan bantuan revitalisasi.

Baca juga : Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki Dukung Penguatan Gerakan Pramuka

Harus Melampaui Urusan Administrasi

Dari perspektif capacity building, bimtek adalah investasi untuk memperkuat kapasitas pelaksana program bukan hanya soal administrasi. Kepala sekolah dan operator sekolah dibekali agar mampu memahami prosedur, menyusun prioritas, mengelola dokumen, menjaga akuntabilitas, berkoordinasi dengan pemangku kepentingan, serta mengantisipasi persoalan selama pelaksanaan. Tanpa penguatan kapasitas, program besar berisiko dipahami secara sempit sebagai urusan pencairan, dokumen, dan laporan.

Pada saat yang sama, perspektif street-level bureaucracy juga mengingatkan bahwa pelaksana di lapangan memiliki peran besar dalam menentukan wajah akhir sebuah kebijakan. Dalam konteks revitalisasi, kepala sekolah dan operator sekolah adalah aktor lapangan yang menerjemahkan kebijakan pemerintah menjadi perubahan nyata. Mereka bukan sekadar penerima instruksi, tetapi penentu bagaimana kebijakan itu dirasakan oleh murid, guru, orang tua, dan masyarakat.

Karena itulah, kepala sekolah harus memandang revitalisasi sebagai agenda perubahan sekolah secara nyata. Di tangan kepala sekolah, revitalisasi bisa berhenti sebagai proyek bangunan, tetapi bisa pula berubah menjadi lompatan besar menuju sekolah yang lebih bermutu dan unggul. Kepala sekolah perlu memastikan kebutuhan sekolah dipetakan dengan tepat, rencana kerja disusun realistis, dokumen disiapkan lengkap, risiko teknis dibaca sejak awal, pengawasan mutu disiapkan, dan warga sekolah dilibatkan.

Revitaliasi: Menguatkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Baca juga : Pesan Kakorlantas: Polantas Harus Humanis dan Dekat dengan Publik

Ruang kelas yang aman dan terang, ventilasi yang baik, toilet yang bersih dan terang, halaman yang aman, dan lingkungan yang tertata dapat membantu murid merasa lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih siap belajar. Hal ini sejalan dengan anjuran PISA pada tahun 2022 yang melihat bahwa rasa aman di sekolah berkaitan dengan keterlibatan murid, kedisiplinan, dan ketahanan sistem pendidikan. Dengan demikian, revitalisasi tidak boleh hanya menghasilkan bangunan yang selesai, tetapi harus menghadirkan suasana baru yang membangkitkan energi belajar.

Arah ini semakin kuat dengan hadirnya Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Regulasi ini menegaskan bahwa sekolah aman dan nyaman bukan hanya soal tidak adanya kekerasan, tetapi juga perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial, serta budaya sekolah yang sehat. Maka, revitalisasi harus menjadi pintu masuk untuk membangun sekolah yang lebih manusiawi, tertib, bersih, inklusif, dan berkarakter.

Oleh sebab itu, bimtek revitasliasi perlu diikuti dengan sungguh-sungguh dan bermakna. Kepala sekolah dan operator sekolah tidak hadir hanya untuk mencatat persyaratan administrasi. Mereka hadir untuk menyiapkan diri mengelola amanah besar dari negara. 

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan revitalisasi sekolah bukan hanya dilihat dari bangunan baru semata, tetapi ia berhasil karena dapat mewujudkan sekolah aman, nyaman, dirawat dengan baik, dan berdampak pada peningkatan mutu pembelajaran. Tentunya, masyarakat sekitar sekolah bisa melihat dan merasakan dengan bangga bahwa negara hadir secara nyata.

Fahmi Syahirul Alim
Fahmi Syahirul Alim
Tenaga Ahli Wamendikdasmen RI

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.