Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kurangi Beban Utang

Krakatau Steel Bakal Divestasi Aset KSI

Minggu, 28 Nopember 2021 06:50 WIB
Direktur Utama Krakatau Steel Tbk Silmy Karim. (Foto: Istimewa).
Direktur Utama Krakatau Steel Tbk Silmy Karim. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Krakatau Steel (Persero) menyiapkan sejumlah strategi untuk mengurangi beban utang. Salah satunya, melakukan divestasi anak usahanya.

Direktur Utama Krakatau Steel Tbk Silmy Karim mengungkapkan, di akhir tahun ini pihaknya akan melakukan pembayaran utang senilai 200 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 2,83 triliun.

“Tahun depan, insya Al­lah kami kurangi lagi (utang) 500 juta dolar AS (setara Rp 7,1 triliun). Sequence-nya kami atur supaya bisa masuk koridor restrukturisasi,” ujar Silmy di Jakarta, Selasa (23/11).

Sebagai gambaran, berdasar­kan laporan keuangan, emiten berkode saham KRAS ini ter­catat memiliki total liabilitas jangka pendek sebesar 1,56 miliar dolar AS (Rp 22,2 triliun) per 30 September 2021. Sedangkan total liabilitas jangka pan­jang KRAS tercatat sebesar 1,75 miliar juta dolar AS (Rp 24,9 triliun) per 30 September 2021.

Berita Terkait : Airlangga Bidik Kerja Sama Yang Nyata Di Presidensi G20

Untuk itu, perseroan berupaya mengurangi sebagian utang tersebut dengan cara menambah modal dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

“(Rights issue) Ini bukan ren­cana baru, sudah pernah kami sampaikan. Ini untuk memperbai­ki posisi utang kami supaya bisa lebih baik lagi. Waktunya masih dipertimbangkan antara kuartal II atau III. Besarannya sekitar 200 juta dolar AS,” katanya.

Tak hanya itu, lanjutnya, pihaknya juga masih memiliki rencana strategis lainnya. Seperti melaku­kan divestasi aset di sub-hold­ing Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) tahun ini. Sejauh ini, ada dua mitra strategis yang tengah dalam proses pendekatan. Yakni, Indo­nesia Investment Authority (INA) dan PT Perusahaan Pengelolaan Aset (Persero) atau PPA.

“Saat ini memasuki tahap akhir, untuk finalisasi deal-nya seperti apa. Kami tawarkan 40 persen kepemilikan KS Infra­struktur,” akunya.

Berita Terkait : Wamenag: Wisata Halal Bukan Islamisasi

Menurutnya, langkah serupa juga akan dilanjutkan di tahun 2022, yakni untuk subholding Krakatau Baja dan Konstruksi (KBK). Serta mempertimbang­kan aset tetap lainnya, termasuk melakukan penggabungan aset.

Ia menyebut, pengembangan aset ini merupakan proses akhir KRAS dalam rangka restrukturi­sasi dan transformasi.

“Jadi, nanti Krakatau Steel akan menjadi holding company yang sangat ramping, yang fokus bisnisnya pada baja dan infrastruktur,” katanya.

Sekadar informasi, KSI merupakan gabungan dari tiga anak usaha KRAS, yakni PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, PT Krakatau Tirta Industri, PT Krakatau Daya Listrik, dan Krakatau Port & Logistic.

Berita Terkait : BPIP: Kampus Sasaran Pengembangan Karakter Pancasilais

Sementara KBK merupakan gabungan dari tiga anak usaha KRAS, yakni PT Krakatau Wajatama, PT KHI Pipe Industries, dan PT Krakatau Global Trading.

Ia melanjutkan, dalam masa restrukturisasi ini pihaknya juga menerapkan efisiensi produksi yang berujung pada peningkatan kapasitas produksi. Ia pun optimistis, pendapatan tahun depan bisa tumbuh 26 persen.

“Kalau dari sisi profitabilitas, kami berusaha untuk lebih baik dari 2021,” akunya.

Hingga Oktober 2021, Krakatau Steel mencatatkan penjualan 1,86 miliar dolar AS (Rp 26,53 triliun). Capaian itu naik 73,18 persen dibandingkan penjualan Oktober 2020 sebesar 1,07 miliar dolar AS (Rp 15,2 triliun).
 Selanjutnya